Selasa, 11 Juni 2019

Hati Ini Hanya Rindu


“Tetapi kami, saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu.” (1 Tesalonika 2:17)

Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah pepatah yang sering digunakan ketika dalam acara perpisahan. Namun sering terabaikan sebuah realita penting ketika berakhirnya sebuah kebersamaan. Realita itu adalah “kerinduan”. Perpisahan akan memberi dampak rasa rindu yang mendalam bagi orang yang berpisah. Entah itu sepasang kekasih yang berpisah, sahabat kita yang pergi jauh, atau keluarga yang kita tinggalkan karena sebuah pekerjaan.

Selama hampir 2 tahun saya tidak bertemu dengan orang-orang yang saya kasihi, baik keluarga, kekasih, sahabat, dan rekan-rekan pelayanan. Perasaan ingin berjumpa sangatlah besar dalam diri saya, dan juga tentu dalam diri mereka. Saya berpikir bahwa Anda juga pernah mengalami hal-hal seperti ini walau dengan rentang waktu yang berbeda. Memang keunikan dalam diri manusia adalam kemampuan untuk merasakan sesuatu. Kemampuan untuk merasakan cinta dan rindu. Bagian terdalam manusia yang merasakan hal-hal ini adalah hati. Oleh karena itu berkaitan dengan hati, Alkitab mengatakan “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4;23). 

Hati merupakan bagian inti dari kehidupan. Hati bisa merasakan indahnya mencintai dan dirindukan. Perpisahan yang sangat lama memunculkan sebuah perasaan yang tidak biasa yaitu rindu yang mendalam. Sepertinya “Hati Ini Hanya Rindu’, itulah ungkapan yang bisa melukiskan perasaan rindu seseorang termasuk saya dan mungkin juga Anda. Rindu akan senyuman, canda tawa, makan bersama, dan hal-hal lainnya. Saya bersyukur Allah memberikan saya hati untuk merasakan hal-hal demikian. Tetapi lebih daripada semuanya itu, Allah mengisih dan memberikan kelegaan disaat kerinduan diri tak lagi tertahankan. Mari kita merasakan keunikan dari hati yang Tuhan ciptakan. Tetapi dengan terbuka menyelaraskan perasaan kita itu dengan kehendak Tuhan.

Soli Deo Gloria.





0 komentar:

Dí lo que piensas...