“Tetapi kami, saudara-saudara, yang seketika
terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh,
dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu.” (1
Tesalonika 2:17)
Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah
pepatah yang sering digunakan ketika dalam acara perpisahan. Namun sering
terabaikan sebuah realita penting ketika berakhirnya sebuah kebersamaan.
Realita itu adalah “kerinduan”. Perpisahan akan memberi dampak rasa rindu yang
mendalam bagi orang yang berpisah. Entah itu sepasang kekasih yang berpisah,
sahabat kita yang pergi jauh, atau keluarga yang kita tinggalkan karena sebuah
pekerjaan.
Selama hampir 2 tahun saya tidak bertemu dengan orang-orang yang
saya kasihi, baik keluarga, kekasih, sahabat, dan rekan-rekan pelayanan.
Perasaan ingin berjumpa sangatlah besar dalam diri saya, dan juga tentu dalam
diri mereka. Saya berpikir bahwa Anda juga pernah mengalami hal-hal seperti ini
walau dengan rentang waktu yang berbeda. Memang keunikan dalam diri manusia
adalam kemampuan untuk merasakan sesuatu. Kemampuan untuk merasakan cinta dan
rindu. Bagian terdalam manusia yang merasakan hal-hal ini adalah hati. Oleh
karena itu berkaitan dengan hati, Alkitab mengatakan “Jagalah hatimu dengan
segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal
4;23).
Hati merupakan bagian inti dari kehidupan. Hati bisa merasakan
indahnya mencintai dan dirindukan. Perpisahan yang sangat lama memunculkan
sebuah perasaan yang tidak biasa yaitu rindu yang mendalam. Sepertinya “Hati
Ini Hanya Rindu’, itulah ungkapan yang bisa melukiskan perasaan rindu seseorang
termasuk saya dan mungkin juga Anda. Rindu akan senyuman, canda tawa, makan
bersama, dan hal-hal lainnya. Saya bersyukur Allah memberikan saya hati untuk
merasakan hal-hal demikian. Tetapi lebih daripada semuanya itu, Allah mengisih
dan memberikan kelegaan disaat kerinduan diri tak lagi tertahankan. Mari kita
merasakan keunikan dari hati yang Tuhan ciptakan. Tetapi dengan terbuka
menyelaraskan perasaan kita itu dengan kehendak Tuhan.
Soli Deo Gloria.

0 komentar:
Dí lo que piensas...