Rabu, 19 Agustus 2020

Pergi Tapi Kembalilah !

“Ketika seseorang ingin pergi maninggalkanmu, jangan tahan dia, biarkan dia pergi. Jika Tuhan menetapkan dia untukmu, yang pergi pun akan kembali” (I.Y.K).

 

    Seberapa seringkah kamu ditinggal orang yang kamu kasihi dalam hidupmu? Bagaimana perasaan kamu jika sebenarnya dalam kebimbangan kamu mengharapkan dia pergi tapi berharap juga dia kembali? Bagaimana jika ada seorang sahabat yang sangat mengenal kamu, baik kelebihan dan kelemahanmu tapi kemudian dia memilih meninggalkanmu, agar supaya kamu bisa memilih jalan yang terbaik? benarkah jalan itu yang terbaik? Jangan ada penyesalan jika semuanya terlambat dan semakin gelap. Gelap karena tidak ada secercah cahaya menerangi relasi yang telah hilang tersebut.

 

    Rasanya tembok egoisme selalu mendominasi setiap perjalanan berelasi dengan sesama. Saya pernah diusir dari rumah oleh mama karena melakukan hal yang menurut mereka tidak baik yakni membantah dan berkata kasar kepada mama. Saya tahu bahwa mama sebenarnya tidak menginginkan saya pergi, tapi dia membiarkan saya pergi untuk sementara waktu. Selama satu minggu saya pergi ke tempat penginapan. Setelah seminggu berlalu, ayah tiba-tiba datang menjemput saya. Sepanjang perjalanan beliau tidak berkata apa-apa. Karena memang ayah tidak pernah mencampuri masalah ketika mama mendidik kami di rumah. Sesampainya di rumah, apakah kalian bisa membayangkan apa yang terjadi? Mungkinkah saya akan dimarahi lagi? Atau mungkin saya diminta untuk pergi? Tidak. Mama ternyata memasak ikan enak untuk saya makan. Ketika saya sampai, mama menawari saya untuk makan. Dia pun berkata “mama sebenarnya tidak mau kamu pergi, seharusnya kamu mengerti bahwa ketika mama bilang kamu pergi, sebenarnya yang mama kehendaki yakni kamu jangan pergi dan menyadari kesalahan kamu”. Sambil makan, mata saya berlinang air mata yang entah secara tiba-tiba jatuh begitu deras. Mama menutup pembicaraan dengan mengatakan, makan yang kenyang dan jangan pergi lagi !

 

Pergi menjauh tidak menyelesaikan masalah, karena hanya mereka yang bertahan yang pada akhirnya akan menjadi pemenang. Tapi jika pun ingin pergi, jangan lupa untuk kembali. Setidaknya jika kembalimu tidak mengubah keadaan, kamu dapat berkata: saya telah bahagia dengan pilihanku, aku harap kamu pun demikian. Tuhan mengasihimu, aku pun demikian.


by. I.Y.K

Senin, 10 Agustus 2020

Demi Mengenal dan Memperoleh KRISTUS

 “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8).


        Bagian ayat yang kita baca saat ini adalah pernyataan atau kesaksian Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi tentang keyakinannya dalam Kristus. Namun sebelum itu kita terlebih dulu melihat siapakah Paulus.

 

FAKTA-FAKTA TENTANG PAULUS

  • Paulus yang dahulunya dikenal sebagai Saulus lahir dan besar di Tarsus tepatnya di sebuah kota di daerah Kilikia, sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani (Kis. 21:39)
  • Paulus berlatar belakang pendidikan yang tinggi dan diajar langsung oleh Gamaliel seorang Rabi (Guru besar/pakar hukum taurat) atau pemimpin Yahudi (Kis. 22:3).
  • Paulus Berasal dari keluarga Yahudi Asli yakni dari suku benyamin (Filipi 3:5)
  • Paulus secara materi terlahir dari keluarga yang kaya dan mendapatkan fasilitas dari status kelahirannya tersebut (Kis. 22:28)
  • Paulus dikenal sebagai salah satu pemimpin yang berpengaruh di kalangan Yahudi yang sekaligus juga penganiaya orang Kristen (Kisah 9, 22, dan 26).

    Kesimpulannya Paulus memiliki segala sesuatu yang dicari manusia di dunia. STATUS SOSIAL, TERKENAL, PENDIDIKAN, HARTA, TAHTA, dan lain sebagainya. Intinya Paulus yang dulu, memiliki segalanya. Tapi dalam ayat yang kita baca saat ini, Paulus memberikan sebuah pernyataan yang mengejutkan dan tentunya mengherankan bagi kita. Paulus Berkata: “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi. Demi Kristus dia relah meninggalkan semuanya dan menganggap semua pencapainya di dunia hanyalah sampah. Mengapa dia sampai mengatakan dan melakukan semua itu? Karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.”


        Kebenaran ini bukan hanya dilakukan oleh Rasul Paulus tetapi juga dipegang teguh dan dilakukan oleh Rasul-rasul dan orang-orang percaya dari gereja segala zaman. Sejarah gereja mencacat, banyak orang percaya relah dianiaya, kehilangan harta, bahkan kehilangan nyawa demi Kristus.   


Dalam bukunya yang berjudul “Follow Me” David Platt menceritakan beberapa perjumpaannya dengan banyak orang Kristen di beberapa Negara. Orang-orang tersebut memberikan kesaksian tentang bagaimana pengorbanan mereka dalam mengikut Kristus. Salah satu kesaksian yang dia bagikan adalah perbincangannya dengan seorang bapak dari salah satu Negara yang sangat membenci kekristenan. Bapak tersebut berkata: David, anda begitu beruntung berada di sebuah Negara yang dapat mendukung kebebasan anda beriman dan beribadah kepada Yesus. Tapi sayangnya dengan kebebasan tersebut, banyak orang relah meninggalkan imannya kepada Kristus demi harta, tahta, cinta, dan nama. Padahal disini, demi iman itu kami relah kehilangan semuanya.


    Lantas bagaimana dengan kita, anak-anak muda penerus gereja? Apakah kita seperti Paulus dan banyak orang Kristen lainnya yang karena Kristus relah berkorban, meninggalkan banyak hal agar mengenal Kristus, relah menderita, dan bahkan relah kehilangan nyawa demi mempertahankan iman kepada Kristus? Ataukan kita malah memilih meninggalkan Yesus, hanya karena harta, tahta, cinta dan sebuah nama? Renungkanlah! AMIN

 

Soli Deo Gloria