Kemudian
ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu
berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini
ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya
untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya,
supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Yesus menjawabnya, kata-Nya:
"Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Lukas 4:9-12).
Saat ini dunia sedang
dilanda wabah virus covid-19 atau virus corona yang sangat mematikan. Menurut
data per 22 Maret 2020, ada 159 Negara/kawasan yang dilanda virus ini. Secara
global sekitar 244.525 orang positif terjangkit virus covid-19, 86.032 orang dinyatakan
sembuh, dan yang meninggal dunia sudah 10.031 orang. Di Indonesia sendiri
terkonfirmasi sudah ada 514 orang positif terjangkit, 29 orang sembuh,
sedangkan yang meninggal dunia ada 48 orang[i]. Menurut Gugus tugas
penanganan virus covid-19, jumlah kasus di Indonesia akan terus meningkat jika
orang-orang tidak mendengarkan instruksi yang disampaikan oleh pemerintah.
Pemerintah telah mengeluarkan perintah agar dapat beraktivitas di rumah saja
selama beberapa minggu kedepan. Hal ini untuk mencegah penularan virus corona.
Akan tetapi sampai sejauh ini masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan
peringatan dari pemerintah. Pertanyaannya, mengapa masih banyak masyarakat yang
tidak menghiraukan peringatan dari pemerintah untuk bekerja, beribadah, dan
beraktivitas di rumah selama beberapa minggu ini? ternyata banyak di antara
masyarakat, masih saja melawan karena mereka katanya meyakini Tuhan tidak akan
menimpahkan wabah tersebut kepada orang “beriman”. Jadi, mengapa kami harus
beribadah di rumah? bukankah dengan beribadah di rumah tandanya kita kurang
percaya dan lebih takut dengan penyakit dari pada kepada Tuhan (kata beberapa
pemuka agama).
Dalam
Injil lukas 4:1-13, Yesus dicobai iblis sebanyak 3 kali. Salah satu hal yang
dilakukan iblis untuk mencobai Yesus adalah menyuruh Yesus menjatuhkan diri-Nya
ke bawah bumbungan bait Suci. Jika dilihat dari ukuran bait suci, kira-kira
tinggi bait suci adalah 27 meter (60 hasta). Jika Yesus menjatuhkan diri-Nya ke
bawah, Yesus yang memiliki natur manusia (bisa merasakan sakit dan lain
sebagainya) pasti akan mengalami luka yang sangat parah. Untuk mencobai Yesus,
apa yang dilakukan iblis sangatlah licik dengan mengutip firman Tuhan (Mazmur 91:11-12) “Sebab
malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di
segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu
jangan terantuk kepada batu.” Topik ini semakin menarik karena Yesus
memberikan respon dengan penuh hikmat. Yesus tidak “sok” menunjukan kehebatan-Nya,
dengan berkata “Baiklah Aku akan menunjukan kehebatan-Ku dengan cara memanggil
para malaikat-Ku untuk membuat-Ku terbang”. Dalam Alkitab Yesus justru berkata “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu
(Lukas 4:12)”. Pertanyaan-Nya, apakah Yesus takut untuk menjatuhkan
diri-Nya kebawah padahal ada jaminan Allah Bapa untuk melindungi-Nya? Ataukah
Yesus kurang hebat, sehingga jika Yesus jatuh Ia tidak akan selamat dan
meninggal dunia?
Dengan
tidak menjatuhkan diri-Nya kebawah, Yesus justru menunjukan hikmat dan ketaatan-Nya
kepada Allah Bapa. Dalam hal ini Yesus telah menunjukan bagaimana seharusnya
kita menunjukan iman kita ketika menghadapi sebuah pencobaan atau masalah. Karena
saat ini banyak orang “yang sok rohani” mau menyatakan imannya dengan cara
bodoh. Mereka tidak mentaati anjuran pemerintah untuk berdiam di rumah, dengan
dalil mereka berkata: “kami adalah orang percaya, tidak mungkin Tuhan
membiarkan kami terkena virus corona”. Mereka kemudian tetap mengadakan
kebaktian masal, KKR, dan segala bentuk perkumpulan, untuk menunjukan bahwa
mereka tidak takut dengan penyakit selain kepada Tuhan. Terbukti sikap seperti
ini adalah sebuah kebodohan yang mengakibatkan kematian masal di Negara Italia
dan juga Korea Selatan (Korsel). Contohnya kasus virus corona di Korsel, terbanyak
karena disebabkan oleh penularan dari jemaat sebuah aliran Gereja Shincheonji Yesus di Daegu. Ketika pemerintah Korsel telah
mengeluarkan larangan melakukan perkumpulan masal, mereka tidak mendengarkan
anjuran tersebut dan tetap mengadakan sebuah perkumpulan masal. Pada akhirnya
pemimpin dari aliran tersebut meminta maaf kepada pemerintah dan seluruh rakyat
Korsel, kerena telah menjadi penyumbang terbesar orang yang terkena virus corona.[ii]
Benar
bahwa kita harus lebih takut kepada Tuhan dari pada virus covid-19 dan segala
bentuk penyakit lainnya. Akan tetapi, Tuhan memberikan hikmat kepada kita untuk
menyatakan iman kita dengan cara yang benar. Kita tidak perlu menunjukan iman
kita dengan cara-cara yang bodoh dan di luar akal sehat. Oleh karena itu
marilah kita mentaati pemerintah yang telah berusaha semaksimal mungkin mengatasi
penyebaran virus ini. Alkitab berkata: “Tiap-tiap
orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada
pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada,
ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan
ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas
dirinya” (Roma 13:1-2). Kiranya kita dapat menggunakan hikmat dalam
menghadapi wabah ini, sambil terus mengevalusi diri seberapa banyak waktu yang
telah kita buang karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, pendidikan, sehingga
tidak ada waktu untuk bersekutu bersama keluarga dan secara pribadi dengan
Tuhan.
Soli Deo Gloria.
by. I.Y.K

