Rabu, 28 Juni 2023
Malam semakin Larut
Sabtu, 07 Januari 2023
Kamu Berharga !
Tahukah Kamu?
Pekerjaan
2022 - 2023 | Tim Pelayanan JESUS FILM Bekerjasama dengan Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) melayani Suku Mongondow.
2022 - Sekarang | Mentor Kelas Pemuridan PPA ID-0286 Shalom Bombanon, Cluster Bolaang Mongondow Tiga.
2020 - Sekarang | Mentor Kelas Pemuridan PPA ID-0271 Tumolutui Dumoga, Cluster Bolaang Mongondow Tiga.
2020 - Sekarang | Guru SMP/SMA Kristen Dumoga, Kec. Dumoga Timur, Kab. Bolaang Mongondow.
2018 - 2020 | Guru Transformasi (Teacher Transformation) Angkatan 2, Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia (MPK – Indonesia), mengabdi di kab. Alor, Nusa Tenggara Timur.
Selasa, 16 Maret 2021
Sir Isaac Newton (1642-1727)
Ahli Matematika, Ilmuwan Jenius dan Penganut Paham Penciptaan yang Bertanggung Jawab Isaac Newton dikenal sebagai salah seorang ilmuwan terbesar sepanjang masa. Yang tidak begitu diketahui orang adalah imannya yang sangat teguh kepada Allah dan keyakinannya bahwa penelitian ilmiah membawa orang kepada pengenalan yang lebih dalam tentang Allah, Pencipta jagat raya ini.
Isaac Newton lahir di Woolthorpe, Lincolnshire, Inggris, pada Natal tahun 1642. Pada malam yang dingin itu, bayi yang lahir prematur itu tampaknya tidak mungkin bertahan hidup. Namun, perlahan-lahan dia bertambah besar dan kuat. Tapi tahun-tahun pertama hidupnya merupakan perjuangan yang sulit. Dua minggu sebelum Isaac lahir ibunya menjadi janda. Meskipun dibantu neneknya, ibunya tetap kesulitan merawat Isaac karena sang ibu juga harus mengurus ladang dan peternakan mereka, sementara Perang Saudara masih berkecamuk di Inggris waktu itu.
Beberapa tahun kemudian, ibunya menikah dengan seorang pendeta dari Desa North Witham, tidak jauh dari tempat tinggal mereka, tapi Isaac tetap tinggal di Woolthorpe dengan neneknya. Dia sering mengunjungi ibunya dan dengan lahap membaca bukubuku dari perpustakaan ayah tirinya, selain membaca Alkitab secara teratur.
Metode Eksperimen
Pada masa itu gagasan para cendekiawan Yunani masih menguasai apa yang diajarkan dalam bidang ilmu sehingga temuan ilmiah mutakhir sebagian besar diabaikan. Ini sangat menjengkelkan Isaac yang sangat yakin bahwa gagasan dalam bidang ilmu harus diuji dan baru diterima jika kegunaannya dapat dibuktikan. Dia sepenuhnya mendukung metode eksperimen dalam ilmu.
Newton menerapkan teorema binomialnya pada deret tak hingga dan dari situ mengembangkan kalkulus, bentuk matematika baru yang revolusioner. Dengan kalkulus ini, untuk pertama kalinya orang bisa menghitung dengan cermat luas bidang di dalam suatu ruang berisi lengkung, dan menghitung laju perubahan suatu kuantitas fisik terhadap kuantitas fisik lainnya.
Ketika Universitas Cambridge dibuka kembali, Newton melanjutkan pendidikannya untuk memperoleh gelar sarjana, sambil mengajar dan melakukan penelitian. Dia menggunakan prisma untuk menunjukkan bahwa cahaya matahari terdiri atas berbagai warna, yang kita kenal sebagai warnawarni pelangi. Ini membuktikan bahwa pendapat orang Yunani kuno mengenai cahaya adalah keliru. Pada masa Newton, perkembangan astronomi sangat terhambat oleh lensa teleskop yang menguraikan sebagian cahaya matahari menjadi warna-warna yang tak diinginkan sehingga mengaburkan pandangan. Meskipun bukan orang pertama yang mempertimbangkan penggunaan cermin lengkung sebagai pengganti lensa, Newtonlah yang pertama berhasil membuat teleskop dengan menerapkan asas ini--asas yang sampai sekarang masih dipakai dalam banyak jenis teleskop.
Tahun 1672 Newton diterima sebagai anggota Royal Society--kelompok ilmuwan yang mengabdikan diri kepada metode eksperimental. Kepada kelompok ini, dia menyumbangkan salah satu teleskopnya yang baru bersama temuannya tentang cahaya. Kelompok ini membentuk sebuah komisi, dipimpin oleh Robert Hooke, untuk menilai temuan-temuan Newton. Hooke dipekerjakan oleh Royal Society untuk menguji coba temuan-temuan baru. Namun, karena Hooke mempunyai gagasan sendiri tentang cahaya, ia jadi enggan menerima kebenaran temuan Newton. Ini membuat Newton heran dan kecewa sehingga dia memutuskan tidak akan memublikasikan temuannya lagi.
Isaac Newton hidup pada masa politik, agama, dan pendidikan belum terpisah. Waktu itu Raja Charles II memerintahkan agar, setelah tujuh tahun, setiap pengajar di sekolahsekolah seperti Trinity College, tempat pendidikan para pendeta Gereja Anglikan, harus juga ditahbiskan sebagai pendeta Gereja Anglikan. Termasuk orang-orang seperti Newton yang hanya mengajar matematika dan ilmu alam, bukan teologi.
Newton berangkat ke London dan selama satu minggu memperjuangkan kasusnya di
hadapan raja. Selama di London, dia berkesempatan mengenal lebih baik ilmuwanilmuwan lain di Royal Society, demikian sebaliknya. Mereka yang selama ini hanya mengenal Newton dari surat- suratnya untuk membela temuannya, menyadari kekeliruan mereka menafsirkan sikap percaya diri Newton sebagai tanda kesombongan. Mereka jadi tahu bahwa sikap tidak sabar Newton semata-mata didorong keinginannya untuk cepat-cepat melanjutkan penelitian baru. Setelah para ilmuwan itu tahu bahwa Newton sebenarnya ramah dan peduli pada orang lain, mereka bangkit mendukungnya. Untung bagi Newton dan ilmu pengetahuan, permintaannya untuk melanjutkan tugas di Trinity College tanpa harus menjadi pendeta, dikabulkan raja.
datangnya malapetaka. Bahkan para ilmuwan umumnya menganggap gerakan planetplanet dan gerakan benda di bumi sebagai hal yang terpisah. Sebaliknya, Newton berpendapat bahwa karena yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang sama, keduanya mesti diatur oleh hukum yang sama.
Tahun 1684, Newton mulai memikirkan gaya berat. Dia mengembangkan teori gravitasi universalnya yang menggunakan apa yang kemudian dikenal sebagai hukum kuadrat terbalik. Dia mengembangkan tiga hukum gerak dan membuktikan secara matematis, bahwa hukum yang sama bisa diterapkan baik kepada benda angkasa maupun benda di bumi. Iman kristianinya menuntun pikirannya ke arah yang benar.
Ketika Newton sedang menyelidiki gerakan planet, dengan jelas dia merasakan bimbingan tangan Tuhan. Dia menulis, "Sistem matahari, planet, dan komet yang begitu indah, hanya bisa berasal dari pemikiran dan kekuasaan suatu hakikat yang cerdas ... hakikat ini menguasai semua hal ... Tuhan dari semuanya." (1)
Sekali lagi Newton menghadapi masalah dengan saingan lamanya, Robert Hooke. Beberapa ilmuwan percaya bahwa hukum kuadrat terbalik mungkin berlaku, tapi mereka tidak bisa membuktikan bahwa hukum ini akan menghasilkan orbit elips seperti yang digambarkan oleh pakar astronomi Jerman, Johannes Kepler. Hooke membual bahwa dia bisa, tapi ternyata dia juga gagal. Ketika Newton berhasil, Hooke ingin ikut mendapat pengakuan.
Sesudah tahun 1685, lagi-lagi Newton menghadapi masalah karena raja ingin mencampurbaurkan politik, agama, dan pendidikan. James II, raja baru, ingin agar Trinity College menganugerahkan gelar kepada orang-orang yang menganut paham agama yang sama dengan dia, sekalipun tidak berhak. Karena perguruan tinggi ini menolak, Newton bersama delapan koleganya dibawa ke Pengadilan Tinggi dengan tuduhan yang dibuat-buat. Meskipun tuduhan ditolak, peristiwa itu membuat kesembilan orang tersebut sangat tertekan.
Isaac Newton mewakili Universitas Cambridge sebagai Anggota Parlemen tahun 1689 dan 1690. Tahun 1690 kesehatannya memburuk. Ini mungkin karena gangguan saraf akibat kerja bertahun-tahun dan seringnya ia mengalami ketegangan. Akhirnya memang dia sembuh sama sekali. Selama beberapa tahun kemudian, Newton mewujudkan apa yang menjadi cintanya yang kedua: membaca Alkitab. Buku-buku yang dia tulis antara lain "Chronology of Ancient Kingdoms" dan "Observations Upon the Prophecies of Daniel".
dimakamkan di Westminster Abbey.
Newton mengasihi Allah dan memercayai firman Allah. Dia menulis, "Saya sangat percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah, yang ditulis oleh orang-orang yang memperoleh wahyu. Saya mempelajari Alkitab setiap hari." (4) Dia juga menulis, "Ateisme sangat tidak masuk akal. Ketika saya mengamati tata surya, saya melihat bumi berada pada jarak yang ideal dari matahari sehingga menerima panas dan cahaya dalam jumlah yang ideal pula. Ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan." (5)
1. Isaac Newton dikutip dalam: J.H. Tiner, Isaac Newton - Inventor, Scientist, and
Teacher, Mott Media, Milford (Michigan), 1975 (bagian dalam sampul depan).
2. ibid.
3. Newton dikutip dalam: D.C.C. Watson, Myths and Miracles - A New Approach to
Genesis 1- 11, Creation Science Foundation Ltd., Acacia Ridge (Queensland,
Australia), 1988, hlm 112.
4. Newton dikutip dalam Tiner (Acuan 1).
5. ibid.
Disunting dari sumber:
Judul buku: Para Ilmuwan Mempercayai Ilahi
Penulis: Ann Lamont
Halaman: 45--58
Penerbit: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta
Apa Kata Mereka
Aurelius Augustinus (354-430)
Augustinus mengalami pergumulan yang hebat, yaitu keinginannya
untuk mencari kebenaran yang sejati yang memberikan kepadanya suatu kedamaian
hidup. Seluruh perjuangannya dalam mencari kebenaran tersebut diuraikannya dalam
bukunya yang berjudul "Confessiones" (Pengakuan-Pengakuan). Kira-kira
tahun 373 ia membaca buku "Hortensius", karangan Cicero, yang membawanya
menjadi seorang pengikut Platonisme. Namun, Platonisme tidak memberikan kepadanya kedamaian
sehingga ia berpindah lagi menjadi pengikut Manikheisme. Sementara itu,
Augustinus memelihara seorang wanita dan dari wanita ini lahir seorang anak laki-laki
yang diberinya nama, Adeodatus. Hubungannya dengan wanita ini berlangsung selama lima
belas tahun lamanya.
Ibunya, Monica, sangat sedih karena kelakuan anaknya itu. Ia
senantiasa berdoa dengan bercucuran air mata agar anaknya ini bertobat dari jalan
yang sesat itu. Monica berkali-kali mengunjungi uskupnya untuk meminta nasihatnya. Sang
uskup menghibur Monica dengan kata-kata, "Anak yang didoakan dengan banyak
air mata, mustahil ia binasa."
Tahun 382 Augustinus berangkat ke Roma. Di sini ia membuka sekolah
retorika, namun sekolahnya itu dipindahkan ke Milano. Di Milano ia meninggalkan
Manikheisme dan berpindah sebagai seorang pengikut Neo- Platonisme. Kemudian
ibunya juga datang ke Milano. Augustinus sama sekali tidak tertarik kepada Alkitab. Ia
menganggap bahasa yang dipergunakan oleh Alkitab sangat kasar dan rendah mutunya.
Banyak hal-hal yang
tidak masuk akal dan aneh.
Di Milano terdapat seorang uskup yang sangat cakap dalam
berkhotbah dengan mempergunakan bahasa yang menarik hati. Uskup itu adalah
Ambrosius. Augustinus ingin berkenalan dengan sang uskup dan sering masuk gereja untuk
mendengarkan khotbah-khotbahnya. Dari khotbah- khotbah Ambrosius, Augustinus
kini melihat keindahan dalam Kitab Suci. Ia kini menemukan jawaban-jawaban yang
memuaskan hatinya.
Pada tahun 386 Augustinus sedang duduk dalam taman di rumahnya.
Tiba-tiba ia mendengar suara anak kecil yang sedang bermain di taman
mengatakan, "Ambillah dan bacalah!"
Suara hatinya mengatakan bahwa yang disuruh ambil dan baca tidak lain daripada Alkitab. Ia mengambil dan membukanya. Augustinus membaca
Roma 13:13-14, "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari,
jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan
dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai
perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan
keinginannya." Augustinus yakin bahwa itulah suara Roh Kudus sehingga ia mengalami
pertobatan. Menjelang Augustinus dibaptis, pada hari Minggu Paskah 387 di Milano, ia
bersama ibunya, Adeodatus, dengan beberapa sahabatnya bersemedi di Cassaciacum,
dekat Milano. Ibunya sangat bergembira dengan pertobatan anaknya itu. Maka
Augustinus pun dibaptis oleh Uskup Ambrosius bersama-sama dengan anaknya,
Adeodatus, dan beserta dengan sahabatnya, Alypius dan Evodius.
Sesudah pertobatan dan baptisannya, Augustinus memutuskan
hubungannya dengan dunia. Harta miliknya dijualnya dan dibagi- bagikannya kepada
orang-orang miskin. Ia ingin melayani Kristus sampai dengan ajalnya.
Kemudian Augustinus bersama-sama anak dan ibunya, Monika, bersiap-
siap untuk kembali ke Afrika. Sayang ibunya meninggal dunia di kota pelabuhan
Ostia sementara menunggu kapal yang akan membawa mereka ke negerinya. Augustinus
menguburkan ibu terkasihnya di Ostia sesuai dengan permintaan Monica menjelang
kematiannya, sebagai berikut. "Kuburkanlah aku di mana saja dan janganlah
dirimu susah karenanya; hanya satu perkara aku mohon, yaitu doakanlah aku di altar Allah
di mana pun engkau berada". Augustinus bersama Adeodatus berserta kedua temannya
berangkat ke Tagaste.
Cita-cita Augustinus sekarang adalah hidup sebagai seorang
biarawan. Tahun 388 ia bersama dengan Alypius dan Evodius membentuk suatu semibiara di
Tagaste. Anaknya, Adeodatus, meninggal dunia di Tagaste pada tahun 390.
Pada tahun 391 Augustinus berkunjung ke Hippo Regius. Umat di
Hippo Regius meminta agar Augustinus ditahbiskan menjadi presbiter untuk
membantu uskup Valerius yang sulit berkhotbah dalam bahasa Latin. Tahun 396 Uskup
Valerius meninggal dan Augustinus ditahbiskan sebagai uskup Hippo Regius
pengganti Valerius. Cita-citanya untuk hidup dengan damai dalam biara terpaksa
ditinggalkannya. Ia menjadi uskup Hippo Regius sampai dengan meninggalnya pada 28
Agustus 430, ketika suku-suku bangsa Vandal mengepung kota Hippo Regius.
Augustinus adalah seorang teolog besar dalam sejarah gereja. Ia adalah murid Paulus. Ia banyak menulis yang di dalamnya kita dapat menimba pandangan teologianya. Ia juga seorang yang dikenal sebagai penentang penyesat-penyesat yang gigih. Perlawanannya dengan Donatisme menyebabkan ia menguraikan pandangannya tentang gereja dan sakramen. Baginya, gereja bukanlah persekutuan yang inklusif, yaitu yang hanya terdiri dari orang-orang suci. Gereja adalah kudus pada dirinya sendiri dan bukan karena kekudusan (kesucian) anggota- anggotanya. Di dalam gereja terdapat orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat. Di luar gereja juga terdapat pula orang- orang yang baik. Nampaknya Augustinus berpendapat bahwa orang-orang baik yang berada di luar gereja akan menjadi anggota gereja sebelum mereka meninggal.
Mengenai sakramen,
Augustinus berpendapat bahwa sahnya sakramen bukanlah bergantung kepada kesucian
orang yang melayankan sakramen tetapi bergantung kepada Kristus sendiri. Pelayan sakramen hanyalah alat dari
Kristus. Itulah sebabnya, maka Augustinus menerima sakramen baptisan yang dilaksanakan oleh
golongan yang memisahkan diri sebagai sakramen yang sah. Jikalau ada orang
Donatisme yang kembali kepada gereja yang resmi, mereka tidak perlu dibaptiskan
kembali.
Dalam perlawanannya dengan ajaran Pelagius, ia melahirkan
pandangan teologianya tentang kehendak bebas, dosa turunan, dan rahmat. Ia mengajarkan
bahwa manusia diciptakan Tuhan Allah dengan karunia- karunia adikodrati.
Karunia-karunia ini hilang pada waktu Adam jatuh ke dalam dosa. Kehendak bebas hilang dan
Adam serta keturunannya takluk di bawah dosa. Manusia tidak dapat
menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia hanya dapat diselamatkan karena rahmat Allah semata-
mata. Sesudah Adam jatuh ke dalam dosa, seluruh manusia berada dalam
keadaan tidak mungkin tidak berdosa. Allah akan memilih orang-orang yang akan
menerima karuniaNya. Nampaknya di sini Augustinus mengajarkan ajaran
predestinasi, ajaran yang kemudian dikembangkan oleh Calvin abad ke-16 dan Jansen pada abad
ke-18.
Sepanjang hidupnya Augustinus banyak menulis. Tulisannya yang
berjudul "Confessiones"
ditulisnya sebelum tahun 400. Di dalamnya diceritakan riwayat hidup sampai pertobatannya. Karya
besarnya yang lain adalah "De Civitate Dei" (Kota Allah) dan "De
Trinitate" (Trinitas). "De Civitate Dei" terdiri dari 22 buku.
Sepuluh buku pertama menguraikan tentang iman Kristen. Dua belas buku
berikutnya menguraikan tentang perjuangan kota Allah (Civitas Dei) dengan kota dunia
(Civitas Terrena). Kota Allah akan mengalahkan kota dunia. Yang dimaksudkan dengan Kota
Allah adalah gereja dan Kota Dunia adalah kerajaan-kerajaan dunia ini,
khususnya kekaisaran Roma. "De Trinitate" terdiri dari lima belas buku.
Sebagian besar merupakan kumpulan surat-surat, khotbah-khotbah, dan suatu kumpulan dialog filosofis.
Tidak lama sebelum kematiannya ia menerbitkan bukunya yang berjudul
"Retractations", di mana ia meninjau kembali karya literernya.
Disunting dari sumber:
Judul buku: Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja
Judul artikel: Augustinus, Aurelius
Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Penulis: Drs.F.D Wellem, M.Th.
Halaman: 30--33
Alamat situs: http://www.bpkgm.com/



