Minggu, 23 Februari 2020

GIVE THANKS

“Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya”.
 (Mazmur 86:12)

              Banyak dari kita berdoa kepada Tuhan agar Ia memberkati kita dalam segala hal. Kita berdoa supaya Tuhan memberkati pekerjaan, pasangan hidup, keluarga, pendidikan, dan pelayanan kita. Sayangnya ketika Tuhan telah memberkati, tidak banyak orang yang mengingat doanya telah dijawab, sehingga lupa mengucap syukur. Seperti kisah 10 orang kusta yang memohon kesembuhan dari Yesus, ketika mereka disembuhkan, hanya satu orang saja yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus. Sebagai orang percaya, kita seharusnya tidak bersikap demikian. Kita percaya bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan. Apapun yang kita nikmati saat ini, itu semua karena kemurahan Tuhan. Oleh karena itu, kita senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan.

              Dalam doanya Raja Daud berkata: “Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya” (Mazmur 86:12). Raja Daud menyakini bahwa ketenangan batin, perlindungan, dan jawaban dari setiap persoalannya hanya berasal dari Allah. Oleh karena itu ia mengucap syukur kepada Allah dengan segenap hatinya dan memuliakan nama-Nya sampai selama-lamanya. Rasul Paulus juga dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, mengatakan: Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu” (Filipi 1:3). Menurut Paulus bahkan ketika masih bisa mengingat orang yang dia kasihi, ia pun mengucap syukur atasnya. Bagaimana denganmu? Bukankah kamu telah menerima begitu banyak kebaikan Tuhan? Masih keraskah hatimu untuk mengucap syukur kepada Tuhan ?

Don Moen - Give Thank

Give thanks with a grateful heart
Give thanks to the Holy One
Give thanks because He's given Jesus Christ, His Son

Reff:
And now let the weak say, "I am strong"
Let the poor say, "I am rich
Because of what the Lord has done for us"
Give thanks

Ya Tuhan, ketika kami masih bernafas itu kerena anugerah-Mu. Ketika kami masih bisa makan, minum, berpakaian, dan memiliki tempat tinggal, itu juga karena anugerah-Mu. Semua karena anugerah-Mu. Jadi, tidak mungkin kami bisa hidup tanpa anugerah-Mu. Oleh karena itu ya Tuhan, biarlah mulut kami memuji Engkau. Hati kami mengucap syukur atas kebaikan-Mu. Haleluya !


Soli Deo Gloria
by. I.Y.K

Kamis, 13 Februari 2020

Kasih Seorang Sahabat

Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Amsal 18:24).

              Manusia disebut juga makhluk sosial, oleh karena manusia membutuhkan orang lain untuk bisa hidup. Dalam kitab Kejadian 1 dan 2, kita melihat Allah menciptakan manusia tidak seorang diri saja. Allah menciptakan manusia dengan seorang penolong di sampingnya. Hal ini menunjukan bahwa manusia di desain Allah untuk membangun sebuah persekutuan/komunitas dengan sesamanya. Dalam persekutuan dengan sesama, kita akan dipertemukan dengan seseorang yang memiliki hubungan erat dengan kita. Orang tersebut biasanya kita sebut sahabat karib. Sahabat adalah dia yang memiliki ikatan kasih dengan kita. Bukan hanya itu, seorang sahabat akan mampu menyatakan keadilan lewat teguran, peringatan, dan nasehat yang membangun untuk kebaikan kita. Jadi mereka yang hanya ada ketika kita berbahagia, tetapi tidak mau menegur kita ketika berbuat dosa, dia bukanlah seorang sahabat.

Saya memiliki seorang sahabat yang bahkan lebih dekat daripada saudara saya sendiri. Kami memiliki beberapa kisah perjalanan hidup di masa kecil yang lucu dan unik. Saya teringat suatu kejadian ketika kami berdua ingin berkeliling beberapa kampung dengan menggunakan sepeda mini. Waktu itu kami berdua menggunakan sepeda mini dengan mengenakan helem standar sepeda motor. Banyak orang yang melihat hal itu kemudian tertawa. Saya juga teringat suatu kejadian ketika dulu kami berdua hampir di tembak oleh orang tidak dikenal. Kejadian tersebut terjadi ketika kami pulang dari menjaga durian diwaktu malam. Ketika dalam perjalanan pulang, kami merasa sedang diikuti oleh mobil dari belakang. Ketika kami sampai di tempat sunyi, tiba-tiba mobil itu mau mencegat kami dan seseorang mengeluarkan pistol yang ditutupi kain. Secara cepat sahabat saya melihat senjata tersebut, dan motor yang kami gunakan langsung di larikan dengan sangat cepat. Bersyukur karena kami bisa selamat dari bahaya maut tersebut. Namun, sampai saat ini kejadian itu menjadi ingatan yang tidak bisa saya lupakan. Meskipun sekarang jarak telah memisahkan kami, namun ikatan kasih sebagai seorang sahabat membuat kami masih terus saling menolong, menasehati, dan menguatkan sampai saat ini.

Apakah Anda memiliki seorang sahabat karib dalam hidupmu? jika ya bersyukurlah atas hal tersebut. Terlepas dari semua sahabat kita di dunia ini, ada satu sahabat sejati yang tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita. Ia adalah Yesus Kristus. Yesus berkata: Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh. 15:15). Bahkan Yesus relah mati untuk Anda dan saya (sahabat-sahabat-Nya). Oleh karena itu tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih Yesus. Pertanyaannya, sudakah Yesus menjadi sahabatmu?


Soli Deo Gloria.
by. I.Y.K

Senin, 10 Februari 2020

CORONA (Cinta Orang-orang Merana)

“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina” (Raja Salomo).

Cinta adalah salah satu kata yang paling banyak ditulis dan ucapkan oleh manusia. Bahkan kalau kita mencari kata kunci untuk cinta di media sosial seperti twitter dan instagram, kata ini pernah digunakan oleh ratusan juta orang untuk mendukung statusnya. Bahkan di dunia nyata, tidak jarang kasus kekerasan yang berujung pembunuhan disebabkan karena masalah cinta. Sedemikian krisiskah manusia dengan cinta? Apakah kita dapat memiliki cinta yang sejati, sehingga orang-orang tidak lagi merana karenanya?

Raja Salomo adalah orang yang paling bijaksana yang pernah membahas tentang cinta. Menurutnya “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina”. Cinta ibaratkan api abadi yang tak terpadamkan. Cinta juga seperti batu karang yang kokoh yang tak dapat dihanyutkan oleh air sungai. Bahkan sekalipun banyak orang berlomba-lomba karena cinta, namun pada akhirnya mereka tak dapat menyelami arti cinta sejati. Oh cinta, sesulit itukah manusia memahamimu?

Manusia memang tidak dapat memahami arti cinta sejati. Namun, syukur karena cinta sejatilah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Firman Tuhan berkata: “God is love - Allah adalah cinta (1 Yoh. 4:8b). Karena begitu besar [cinta ] Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Allah adalah cinta sejati. Melalui Yesus Kristus, Ia menyatakan diri-Nya kepada manusia. Bukankah hal ini sangat menakjubkan? orang-orang yang merana karena cinta, kini bisa merasakan cinta yang sejati dalam dirinya. Pertanyaannya, maukah Anda menerima cinta sejati itu?

Soli Deo Gloria.
by. I.Y.K

Minggu, 02 Februari 2020

Mantapkan Langkah Pertama

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”.
(Amsal 23:18)

Saya mengenal seorang anak muda yang telah menginspirasi banyak orang. Sebelum ia menjadi seperti saat ini, dimasa mudanya ia pernah melalui masa hidup yang kelam. Dia pernah menjalani kehidupan jalanan yang penuh kekerasan. Ia juga sempat merasakan jeruji besi karena kehidupannya itu. Sampai kemudian, sakit membawanya pada sebuah kehidupan yang mengubahkan. Ia mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Kecelakaan itu telah meninggalkan sebuah kenangan yang tak terlupakan pada salah satu anggota tubuhnya. Tapi singkat kata, itulah awal dimana ia bisa merasakan hidup yang sebenarnya.

Saat ini, sosok anak muda itu telah memberi dampak positif bagi banyak orang.  Ia telah meluangkan waktunya untuk menginspirasi banyak anak muda. Dia pernah berkata “Harus ada pengorbanan besar untuk sebuah cita-cita yang besar”. Dia mempunyai visi yang jelas untuk masa depannya. Oleh karena itu, demi cita-citanya yang besar, ia relah mengorbankan beberapa pencapaiannya untuk menggapai apa yang telah ia tetapkan. Satu kata kunci yang ia pegang: “Mantapkan Langkah Pertama”.

Banyak anak muda di zaman sekarang punya potensi besar, namun enggan untuk mengambil langkah pertama. Segudang harapan dimimpikan dan ingin dicapai, tetapi realitanya tidak berani melangkah dan mengambil keputusan. Kita tidak berani mengambil resiko, oleh karena itu tidak bisa memantapkan langkah pertama. Padahal langkah pertama sangat penting untuk langkah-langkah selanjutnya. Tanpa langkah pertama tidak akan pernah ada langkah kedua dan langkah seterusnya. Firman Tuhan berkata “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Jadi, apa lagi yang perlu kita ragukan, segeralah mantapkan langkah pertamamu. Gapailah cita-citamu, dan percayalah Tuhan pasti menyertai.

Soli Deo Gloria.
by. I.Y.K

Waktu Tuhan Pasti Yang Terbaik

“Persoalan kita tidaklah lebih besar daripada rencana Allah dalam hidup kita. Karena itu tindakan bijaksana adalah membiarkan Allah menggenapi rencana itu sesuai dengan waktu-Nya”. (IYK)

Pada suatu hari ada seorang anak perempuan bermain-main di taman rumah mereka. Ia suka bermain dengan kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga. Suatu ketika, anak ini melihat secara langsung seekor kupu-kupu yang berusaha keras untuk keluar dari cangkang kepompong. Selama beberapa waktu lamanya ia menyaksikan betapa keras usaha dari kupu-kupu itu untuk keluar. Tapi karena merasa kasihan akhirnya ia membantu membuka kepompong tersebut. Apa yang terjadi? kupu-kupu itu pun bisa keluar, tetapi hanya bisa merayap di tanah. Dia menunggu sangat lama untuk melihat apakah kupu-kupu itu bisa terbang atau tidak, namun sayang kupu-kupu itu ternyata tidak bisa terbang. Dia menangis kemudian membawa kupu-kupu malang tersebut ke dalam rumah untuk diperlihatkan kepada orang tuanya. Orang tuanya pun kemudian menjelaskan bahwa kupu-kupu itu tidak bisa terbang oleh karena anaknya membantu membuka cangkangnya. Orang tuanya yang kebetulan adalah seorang guru IPA menjelaskan bahwa kupu-kupu haruslah berusaha keluar sendiri dari cangkangnya. Meskipun hal itu adalah proses yang lama dan menyakitkan, namun melalui proses tersebut otot-otot pada sayap kupu-kupu akan terbentuk. Dengan demikian kupu-kupu akhirnya mempunyai kekuatan untuk membuka dan mengepakkan sayapnya sehingga bisa terbang.

    Kupu-kupu adalah salah satu mahkluk ciptaan Tuhan. Tuhan telah mendesain bagaimana caranya untuk hidup dan berkembang. Proses yang di awali dari telur, ulat, kepompong kemudian menjadi kupu-kupu, telah di desain Tuhan sesuai dengan waktu-Nya. Menghilangkan salah satu dari proses tersebut hanya akan membuat kupu-kupu itu tidak berkembang atau mati. Jadi meskipun anak kecil tadi berpikir bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baik (menurutnya), tapi ternyata ia malah memperburuk keadaan dari kupu-kupu itu. Hal ini terjadi karena ketidaktahuannya akan proses yang harus di jalani oleh seekor kupu-kupu.

    Kadang juga kita bersikap seperti anak kecil tersebut. Kita berpikir bahwa kita telah melakukan sesuatu yang baik untuk hidup kita, tapi ternyata apa yang kita lakukan malahan memperburuk keadaan yang ada. Ketidaktahuan pada rencana dan proses Tuhan membuat kita cenderung bertindak sesuai dengan kehendak kita sendiri. Memang kita memiliki kecenderungan untuk memilih jalan sendiri dan ingin bebas dari Tuhan Allah. Kita lebih suka melakukan sesuatu sesuai dengan waktu kita bukan waktu Tuhan. Kita tidak mau melalui proses yang memakan waktu lama dan menyakitkan. Kita lebih suka sesuatu yang instan, yang hasilnya bisa langsung kelihatan. Tapi firman Tuhan mengatakan “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Oleh karena itu berjalanlah sesuai rencana dan waktu Tuhan. Percayalah waktu Tuhan pasti yang terbaik.

Soli Deo Gloria.
by. I.Y.K