Sabtu, 29 Juni 2019

Berdiri Ditengah Badai

     

"Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis." (2 Tesalonika 2:15)

     Hidup sebagai seorang pemuda di zaman sekarang pasti tidak mudah. Banyak tantangan dan godaan yang akan diperhadapkan dengan kita. Tidak heran jika banyak kaum muda menjadi "Apatis", "Hedonis", atau hanya mengikuti arus saja. Pertanyaannya dimana posisi kita sebagai pemuda kristen? Apakah kita harus mengasingkan diri dari perkembangan zaman yang sulit kita bendung ini? Ataukah kita dapat berpegang teguh pada sebuah prinsip yang tidak berubah, kemudian dengan keyakinan kita akan memanfaatkan semua perkembangan ini sebagai kesempatan untuk berkarya bagi Tuhan?!

Sebagai pemuda Kristen pertanyaan pertama dan kedua tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kita, tetapi yang perlu kita pegang teguh dan jawab adalah pernyataan sekaligus pertanyaan terakhir. Kita harus memegang teguh sebuah prinsip yang tidak berubah. Tetapi prinsip apakah yang bisa menjadi dasar yang dimana hal tersebut tidak akan berubah? kebenaran Allah sajalah yang dapat dijadikan sebuah prinsip, karena Kebenaran-Nya kekal dan tidak berubah. Kebenaran itu adalah Firman Tuhan.

Pemuda Kristen harus mampu berdiri tegap ditengah badai dunia yang bergelora. Badai yang dimaksud adalah segala bentuk tawaran dunia untuk menyangkal Kebenaran Allah. Kita bisa memiliki kekayaan tetapi tidak boleh menjadi orang yang materialistis dan hedonis. Kita harus menghargai keberadaan diri tetapi tidak boleh menjadi orang yang individualistis apalagi apatis. Karena kita harus menyatakan kasih Allah kepada orang lain. Marilah kita sebagai pemuda kristen tetap berdiri teguh dengan berpegang pada prinsip Firman Allah. Percayalah kita sanggup berdiri ditengah badai ini.

Soli Deo Gloria.

Kamis, 27 Juni 2019

Jomblo Berkualitas

"Lebih baik lama memutuskan akan hidup dengan siapa, daripada terburu-buru kemudian hidup dalam penyesalan." (Y.I)

         Ada ungkapan dari sebagian orang yang mengatakan "wajah cantik/ganteng adalah ketetapan Tuhan, tetapi menjadi jomblo adalah pilihan". Ya secara sederhana status "jomblo" merupakan pilihan dari seseorang yang belum ingin menjalin hubungan khusus dengan orang lain. Tentu sebagai pemuda Kristen kita tidak boleh sembarang memilih pasangan. Karena kita tidak mau mengalami penderitaan yang disebabkan karena pilihan kita yang salah. Jangan merasa risau jika sampai saat ini Anda masih jomblo.

Status jomblo yang diakibatkan karena kita benar-benar memikirkan dengan matang siapakah tambatan hati kita, merupakan pilihan yang tepat. Saya bisa mengatakan orang yang seperti ini adalah "Jomblo Berkualitas". Tetapi mereka yang memilih jomblo karena ingin memiliki pasangan yang sempurna menurut standar dunia, adalah "Jomblo Sinetron". Mengapa saya menyebutnya jomblo sinetron, karena hanya di serial film korea sajalah, Anda dapat memimpikan pasangan yang sebenarnya tidak mungkin Anda dapatkan.

Alkitab mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, karena semua orang telah berdosa (Matius 5:48, Roma 3:23). Jadi mereka yang terlihat keren, cantik/ganteng seperti di sinetron Korea atau film Hollywood, merupakan tampilan luar saja tetapi pada hakekatnya semua orang telah tercemar oleh dosa yang merusak. Oleh karena itu mari selagi kita masih jomblo, jadilah seorang "Jomblo Berkualitas". Tuhan telah menetapkan Anda akan hidup dengan siapa, tetapi tanggunjawab Anda adalah memilih yang terbaik diantara yang tidak sempurna itu. Pilihlah mereka yang telah memilih untuk mengikut Yesus dan setia kepada-Nya.

Soli Deo Gloria.

Minggu, 16 Juni 2019

Perpisahan Adalah Ujian Kesetiaan

"Perpisahan bisa menjadi sukacita dan kebahagiaan yang tak terlupakan 
ketika ujian jarak dan waktu terlewati." (Y.I)

        Mengutip kata bijak dari seorang gadis muda yang telah lama terpisah dengan kekasihnya. Dia mengatakan "Hanya jarak yang memisahkan kita saat ini tapi suatu saat nanti waktu akan mempertemukan kita kembali". Ungkapan ini tentu menjadi kerinduan sekaligus komitmen dari gadis muda ini, untuk bertahan dan setia dalam penantian. Baginya perpisahan merupakan ujian kesetiaan, menumbuhkan rasa percaya, dan tantangan untuk tetap saling mendoakan.

Sebagai anak muda Kristen yang telah berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan seseorang, perpisahan tentu menjadi sesuatu yang sangat memberatkan hati. Perpisahan yang dimaksud adalah soal tidak bertemunya seorang perempuan atau laki-laki dengan pasangannya dalam jangka waktu yang lama. Tetapi disisi lain perpisahan seperti ini bisa menjadi kekuatan untuk mematangkan komitmen terhadap pasangan kita. Memang ini bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi perpisahan bisa menjadi sarana untuk menguji kesetiaan seseorang.

Alkitab mengatakan "Salah satu hal yang dituntut TUHAN daripada kita adalah mencintai kesetiaan" (Mikha 6:8). Ketahuilah akhir daripada perpisahan yang panjang dengan tetap bertahan dalam kesetiaan adalah kebahagiaan dan sukacita yang tidak terlupakan. Oleh karena itu Alkitab mengatakan "Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya (Pengkhotbah 7:8)". Kiranya dalam penantian, kita tetap rendah hati dan sabar. Percayalah semuanya akan indah pada waktu-Nya.

Soli Deo Gloria.


Sabtu, 15 Juni 2019

Pacarku Sahabat Doaku

"Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang benar yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16 - AYT)

Pada umumnya orang yang sedang pacaran menganggap pasangannya sebagai objek dari tindakan kasih. Artinya seseorang akan memberikan perhatian dan perlakuan khusus kepada pacarnya tersebut. Tetapi tahukah kita bahwa efek dari hubungan yang seperti ini hanya akan memberikan ketergantungan pasangan terhadap perlakuan kita. Ketika kita tidak memperlakukannya seperti biasa maka mudah baginya untuk tidak mencintai/mengasihi kita. Oleh karena itu jangan jadikan hal seperti ini sebagai dasar utama dalam membangun hubungan.

Saya meyakini bahwa dasar terbaik dari sebuah hubungan bukan perlakuan dan perhatian khusus kita terhadap pasangan tetapi kasih kita kepada Tuhan. Jika kita memang benar-benar mengasihi Tuhan, maka kita akan menunjukkan kasih yang tulus terhadap pasangan kita termasuk perhatian dan tidakan kasih terbaik. Karena di dalam proses pendewasaan hubungan pasti akan mengalami dinamika. Kita pasti akan merasakan kesedihan tetapi juga kebahagiaan. Jadi letakkan dasar hubungan pada sesuatu yang kokoh yaitu kasih Allah.

Menurut saya "Pacar adalah sahabat doa". Ketika dua orang sepakat untuk saling mendoakan, maka di dalamnya akan ada kasih yang mesra. Kasih yang mampu mengampuni ketika disakiti, kasih yang mampu berbagi di kala suka maupun duka. Kasih yang membuat kita berkomitmen untuk bertahan dan setia. Bukankah luar biasa menjadikan pacar kita sebagai sahabat doa ? "Pacarku sahabat doaku" !

Soli Deo Gloria.


Jumat, 14 Juni 2019

Orang Biasa Dengan Cinta Luar Biasa

"Saya hanyalah orang biasa yang belajar mencintai dengan cara yang tidak biasa" (Y.I)

Setiap manusia diciptakan Tuhan secara unik, dengan potensi yang luar biasa. Tidak ada yang terjadi dalam hidup kita secara kebetulan, melainkan semuanya telah ada dalam rancangan agung Allah. Kondisi fisik sebenarnya bukanlah alasan bagi kita untuk menyangkali keberadaan diri. Kisah tentang Nick Vujicic menjadi inspirasi bagi banyak orang berkaitan dengan hal ini.

Nick Vujicic terlahir dengan keadaan tubuh yang "cacat". Dia tidak memiliki tangan ataupun kaki seperti orang normal lainnya. Dia kemudian menjadi tertekan dengan banyak hal, mulai dari olokan orang ataupun kehidupan pribadinya. Pada awalnya Nick berpikir bahwa dia tidak akan mendapatkan teman, pekerjaan, ataupun pasangan hidup dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu. Orang tuanya kemudian hadir untuk  mengajar dan memotivasi hidupnya. Tetapi hal luar biasa dari kesaksian Nick adalah pernyataannya yang mengatakan "Alkitab merupakan pedoman agung dalam hidup untuk mengerti bahwa Tuhan punya rencana besar atas semua orang termasuk dirinya". Nick akhirnya menjadi salah satu motivator dunia yang sangat terkenal dan telah menginspirasi jutaan orang.

Saya dan Anda adalah orang biasa. Tetapi kita punya banyak alasan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang tidak biasa. Walaupun kita hanya orang biasa tapi kita punya alasan mencintai dengan cara luar biasa. Bagaimana caranya ? Kita terlebih dahulu harus merasakan cinta luar biasa itu. Cinta luar biasa itu adalah kasih Allah akan manusia berdosa melalui karya Yesus Kristus (Roma 5:8). Ketika kita percaya kepada Yesus Kristus yang telah menunjukkan kasih terbesar Allah kepada manusia (Yoh 3:16), kita punya alasan kuat untuk mencintai orang lain dengan cara luar biasa. Memang kita tidak sempurna tetapi kita bisa mencintai dengan cara yang sempurna.!

Soli Deo Gloria.




Kamis, 13 Juni 2019

Sahabat Sejati


“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabanya. Kamu adalah sahabat-Ku…” (Yohanes 15:13-14a)

       Saya memiliki seorang sahabat karib yang telah saya kenal dari kecil. Kami berdua memiliki banyak pengalaman bersama, yaitu: pergi sekolah bersama, bermain dan bercerita. Ketika  melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, komunikasi kami menjadi terbatas dan kami sudah sangat jarang bertemu. Nanti ketika libur semester, barulah kami bisa berjumpa. Saat ini kami semakin jarang bertemu, karena masing-masing dari kami sudah bekerja.

Tuhan memberikan banyak orang sahabat karib yang bahkan lebih dekat dari saudara kandung. Saya berharap Anda juga memilikinya. Akan tetapi semua sahabat kita tak dapat terus ada di dalam setiap keberadaan kita, oleh karena keterbatasan mereka. Hanya Yesus sajalah yang dapat menjadi sahabat setia saya dan Anda. Yesus selalu ada disetiap waktu dan berjanji tak akan membiarkan dan meninggalkan kita (Ibrani 13:5c). Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita menjadikan Yesus sahabat ? ataukah Yesus masih menjadi pribadi yang asing dalam hidup kita.

Hal yang perlu kita ingat, tidak ada kasih yang lebih besar daripada seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi kita. Satu-satunya sahabat yang melakukan hal demikian adalah Yesus. Yesus memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Hanya Yesus yang layak dan pantas disebut sahabat sejati. Sukacita besar karena Ia mengangap Saya dan Anda sebagai sahabat-Nya.




Rabu, 12 Juni 2019

Awal Dari Segalanya Adalah Allah


“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36)

Keyakinan banyak orang masa kini adalah terlalu mengagungkan Humanisme sekular[1]. Mereka meyakini manusia adalah penyebab dari segala sesuatu. Humanisme sekular beranggapan bahwa alasan Tuhan menciptakan alam semesta, yaitu: supaya manusia dapat menikmatinya untuk kesenangan dirinya sendiri. Humanisme Sekular memiliki cara pandang bahwa manusialah tujuan utama dari segala sesuatu yang ada sekarang. Sekilas pemahaman ini terlihat benar, tetapi dampak dari pengagungan atas manusia adalah manusia mulai mentuhankan dirinya sendiri. Manusia mengerjakan setiap perkara demi ketenaran pribadi, pujian pribadi, dan untuk memuaskan tubuhnya. Sesungguhnya akibat terburuk dari semua ini yaitu kehilangan dasar dari pengenalan akan Allah yang benar. Didalam Alkitab dengan tegas mengatakan Allah adalah penyebab pertama dari segala sesuatu. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.[2] Oleh karena itu Allah menciptakan segala sesuatu bagi-Nya sendiri. Allah menempatkan kita di dunia ini dengan sebuah tujuan besar yakni untuk kemuliaan-Nya.

Saya secara pribadi begitu bergumul dengan perkara ini. Jika apa yang saya lakukan semata-mata hanya supaya nama saya dipuji dan diagungkan maka apalah arti pelayanan ini. Tinggal menunggu waktu saja, maka bom waktu egoisme mendominasi untuk menghancurkan sukacita dan pengharapan dalam pelayanan. Pengalaman berharga bagi saya ketika berada dibangku kuliah semester dua, dimana saya terlalu membanggakan kepintaran pribadi sehingga pada akhirnya menganggap remeh relasi dengan Tuhan dan sesama. Hasil dari membanggakan atau menyombongkan diri ini adalah kekecewaan dan nilai semester terburuk dari semua semester yang ada. Jadi apa yang dapat dibanggakan dari semua ini, bukankah hari-hari manusia seperti bunga rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi[3]. Jadi Allah adalah awal dari segalanya maka berpijaklah pada dasar ini dan berjalanlah di dalam-Nya.




[1] Lihat pembahasannya dalam tulisan Ravi Zacharias dan Vince Vitale, Jesus Among secular God’s,  terbitan Literatur Perkantas Jatim, Bab 5, hal. 133-154
[2] Yohanes 1:3 (TB)
[3] Mazmur 103:15-16 (TB)

Selasa, 11 Juni 2019

Hati Ini Hanya Rindu


“Tetapi kami, saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu.” (1 Tesalonika 2:17)

Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah pepatah yang sering digunakan ketika dalam acara perpisahan. Namun sering terabaikan sebuah realita penting ketika berakhirnya sebuah kebersamaan. Realita itu adalah “kerinduan”. Perpisahan akan memberi dampak rasa rindu yang mendalam bagi orang yang berpisah. Entah itu sepasang kekasih yang berpisah, sahabat kita yang pergi jauh, atau keluarga yang kita tinggalkan karena sebuah pekerjaan.

Selama hampir 2 tahun saya tidak bertemu dengan orang-orang yang saya kasihi, baik keluarga, kekasih, sahabat, dan rekan-rekan pelayanan. Perasaan ingin berjumpa sangatlah besar dalam diri saya, dan juga tentu dalam diri mereka. Saya berpikir bahwa Anda juga pernah mengalami hal-hal seperti ini walau dengan rentang waktu yang berbeda. Memang keunikan dalam diri manusia adalam kemampuan untuk merasakan sesuatu. Kemampuan untuk merasakan cinta dan rindu. Bagian terdalam manusia yang merasakan hal-hal ini adalah hati. Oleh karena itu berkaitan dengan hati, Alkitab mengatakan “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4;23). 

Hati merupakan bagian inti dari kehidupan. Hati bisa merasakan indahnya mencintai dan dirindukan. Perpisahan yang sangat lama memunculkan sebuah perasaan yang tidak biasa yaitu rindu yang mendalam. Sepertinya “Hati Ini Hanya Rindu’, itulah ungkapan yang bisa melukiskan perasaan rindu seseorang termasuk saya dan mungkin juga Anda. Rindu akan senyuman, canda tawa, makan bersama, dan hal-hal lainnya. Saya bersyukur Allah memberikan saya hati untuk merasakan hal-hal demikian. Tetapi lebih daripada semuanya itu, Allah mengisih dan memberikan kelegaan disaat kerinduan diri tak lagi tertahankan. Mari kita merasakan keunikan dari hati yang Tuhan ciptakan. Tetapi dengan terbuka menyelaraskan perasaan kita itu dengan kehendak Tuhan.

Soli Deo Gloria.





Senin, 10 Juni 2019

Wanita Hanya Ingin Dimengerti !

"Hal-hal terbaik dan paling indah di dunia ini tidak bisa dilihat atau didengar, melainkan harus dirasakan dengan hati. (Helen Keller - Penulis, Dosen, Advokat Penyandang Disabilitas, Perempuan yang pernah dijuluki kejaiban dunia kedelapan) 

Beberapa ahli Psikologi mengatakan ada perbedaan unik antara perempuan dan laki-laki khususnya ketika menjalin sebuah hubungan. Menurut mereka otak laki-laki dan perempuan memiliki cara kerja yang unik. Kebanyakan dari laki-laki menggunakan otak kiri sedangkan perempuan bisa memanfaatkan kedua-duanya secara bergantian atau lebih condong menggunakan otak kanan. Dampak dari hal ini yaitu laki-laki lebih banyak menggunakan logika sedangkan perempuan menggunakan perasaan.

Perempuan mempunyai sifat yang sangat unik. Jika mereka telah mencintai laki-laki dengan tulus maka sulit bagi mereka untuk tidak setia. Tetapi bagi laki-laki yang telah dihianati sulit baginya untuk melupakan "penghianatan itu". Perempuan dan laki-laki diciptakan dengan keunikan yang saling melengkapi. Tidak ada yang sempurna, tetapi dengan peran masing-masing bisa menikmati hidup secara berkualitas. Alkitab mengatakan "kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran" (Amsal 10:12). Kenakan kasih sebagai pengikat dalam hubungan agar perbedaan ini menjadi kekayaan dan dasar pengampunan.

Banyak laki-laki (termasuk saya) lebih banyak memberikan pertimbangan akan segala sesuatu. Namun perempuan lebih sering tidak ingin mendengar pertimbangan tetapi perhatian. Saya akhirnya mengerti bahwa memikirkan hal kedepan dengan pertimbangan akan membuat hubungan memiliki fokus dan tujuan tetapi mengerti pasangan kita akan mengharmoniskan semuanya. Jika saat ini Anda (laki-laki) ingin diingat dan dikenang oleh pasangan anda berikan perhatian khusus untuknya. Karena mereka ingin dimengerti. Mari kita belajar bersama.


Minggu, 09 Juni 2019

Menjadi Keropos Karena Medsos ?


"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." (Efesus 5:15-17)

Pernahkah Anda berdoa kemudian mempostingnya di halaman Facebook ? Atau pernahkah Anda ketika sedang beribadah kemudian mengambil gambar Pendeta, jemaat, atau bahkan "Selfie" lalu mempostingnya di halaman Instagram ? Dalam status, Anda menggunakan kata-kata "Ibadah Minggu, Sedang Ibadah, Worship, Selamat beribadah dll" pernahkah Anda melakukan hal-hal tersebut atau bahkan saat ini masih melakukannya ?

Media sosial bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk menjangkau jiwa bagi Kristus. Tetapi juga bisa menjadi "virus" paling kuat untuk membuat "keropos" iman kita dalam Kristus. Memang orang kristen dituntut untuk bisa beradaptasi di setiap zaman, tetapi tidak mengikuti arus zaman. Sebagai pemuda-pemudi kristen, kita dapat memanfaatkan perkembangan ini dengan membangun jejaring atau komunitas yang bisa memperkokoh dasar iman kita dalam Kristus. Kita bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana berbagi kebenaran Firman Tuhan. Saya menyadari hal ini tidak mudah untuk dilakukan, tetapi jika kita tidak melakukanya maka kita akan dikuasai oleh arus zaman ini dan menjadi seperti "ikan salmon mati" yang tidak lagi melawan arus tetapi dibawa arus.


Pilihan kita "Menjadi keropos karena medsos" atau "Menjadi saksi Kristus dalam medsos". Gunakanlah waktu sebijaksana mungkin karena hari-hari ini adalah jahat. Jangan biarkan diri kita dikuasai oleh dunia ini. Jadilah orang arif dengan melihat peluang yang ada untuk bersaksi tentang Allah dan kebenaran-Nya. Pertanyaannya maukah kita melakukannya ?


Soli Deo Gloria.





Sabtu, 08 Juni 2019

Pacar & Kasar


"Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."' (Kejadian 2:23)

      Pacar adalah anugerah yang Tuhan titipkan untuk dijaga dan diperhatikan. Pacar bukanlah "Ampas kelapa yang habis diremas lalu dibuang". Lebih parah lagi jika mereka dibuang dengan cara kekanak-kanakan dan "kasar". Masa pacaran adalah masa mempersiapkan diri ke jenjang pernikahan. Masa ini adalah tahap dimana kita bisa belajar tentang karakter pasangan, cara berpikir, ataupun mengenal keluarganya. Bukan masa untuk mencari titik lemah pada bagian tubuhnya untuk kita lampiaskan tamparan dan tendangan. Jika pasangan Anda seperti ini, segera tinggalkan dia .!

Alkitab mengatakan perempuan diambil dari tulang rusuk laki-laki. Posisi tulang rusuk berada di bagian bawah lengan, di bagian atas kaki, dan dekat dengan hati. Artinya: dibawah lengan agar dilindungi dan dirangkul. Diatas kaki agar tidak diinjak dan disakiti. Dan dekat dengan hati agar bisa di sayangi dan dicintai.

Soli Deo Gloria.

Jumat, 07 Juni 2019

Persahabatan Bagai Mata Koin


"Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara." (Amsal 18:24)

       Mata koin pada umumnya memiliki kedua sisi yang berbeda. Kedua sisi ini meski berbeda namun saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Persahabatan menurut saya adalah seperti dua mata koin. Saling melengkapi dan memberi arti.

Dalam perjalanan kehidupan, kita akan menemukan banyak sekali teman tetapi sepanjang perjalanan itu mungkin hanya menemukan satu orang sahabat. Seorang sahabat adalah mereka yang hadir, turut merasakan, dan menolong kita secara jasmani maupun rohani. Mungkin banyak orang merasa sudah memiliki seorang sahabat. Karena mereka hadir disaat kita susah maupun senang. Tetapi apakah mereka dapat dikatakan sahabat terbaik ? Menurut saya tidak.

Sahabat terbaik adalah mereka yang bahkan bisa lebih karib daripada seorang saudara. Mereka adalah orang yang menegur kita ketika salah, dan memuji kita ketika melakukan sesuatu yang baik. Sahabat terbaik menuntun kita semakin dekat dengan Kristus. Menegur kita dengan kasih bukan menghakimi. Mereka mau terus bertumbuh bersama, untuk mengenal Allah dan kebenaran-Nya.

Soli Deo Gloria.

Kamis, 06 Juni 2019

Kekuatiran


"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7)

   Kekuatiran merupakan hal yang manusiawi. Tidak ada manusia selain Yesus yang tidak pernah kuatir. Salah satu ciri-ciri dari orang yang kuatir yaitu tidak bisa tenang, dan biasanya hal ini ditunjukan dengan perasaan gestur tubuh yang gelisah. Mengapa manusia memiliki kekuatiran dalam dirinya ? karena dosa. Semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Kekuatiran merupakan akibat dari dosa yang melekat dalam diri manusia.

Saya menyadari bahwa menghilangkan perasaan kuatir tidaklah mudah. Menurut saya ini adalah perjuangan iman yang cukup panjang dari semua orang percaya. Meskipun kita mengaku percaya akan janji firman Tuhan yang berkata "Allah memberikan rancangan damai sejahtera kepada kita dan hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11)." Tetapi realitanya kita sering kuatir akan pasangan hidup, pekerjaan, keuangan, dan lain sebagainya.

kekuatiran tidak akan menambah sehasta pada jalan hidup kita (artinya kekuatiran tidak bisa menyelesaikan masalah, malahan sebaliknya). Oleh karena itu Alkitab mengatakan "kita harus terus menerus bersedia dipimpin oleh Roh Kudus. Ketika Roh Kudus berkuasa dalam hidup kita dan diri kita turun tahta, Dia akan memberikan ketenangan dan pengharapan dalam hidup kita.

Soli Deo Gloria.

Selasa, 04 Juni 2019

Saya Pasti Benar Kamu Yang Salah


"Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Lukas 6:37)

       Saya memiliki beberapa pengalaman dengan seseorang yang saya kasihi tentang memposting foto di media sosial (medsos). Menurut saya seseorang yang suka memposting foto atau video di medsos dengan jumlah yang banyak adalah orang yang ingin dipuji. Mereka yang ingin dipuji dengan cara demikian adalah sikap aktualisasi diri yang berlebihan. Dan memang saya tidak suka cara demikian.

Namun apakah dengan demikian, pemikiran seperti ini membuktikan bahwa saya yang benar dan orang itu yang salah ? Sifat, kepribadian, hobi, dan selera dari tiap-tiap orang pasti berbeda. Sebenarnya ini sangat berkaitan dengan cara pandang seseorang akan suatu hal. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk mengkomunikasikan kasih tanpa harus menghakimi jika terjadi hal yang berbeda. Kita perlu hati-hati menilai seseorang berdasarkan perspektif kita sendiri. Karena bukankah kita juga tidak ingin dihakimi ?

Hal yang dapat kita lakukan adalah belajar untuk mendengar dan memahami perspektif orang lain. Kita tidak harus bersikap arogan hanya supaya orang lain mengikuti keinginan kita. Saya telah belajar hal ini, dan saya bersyukur Tuhan begitu murah hati sehingga saya bisa terus belajar tentang mengasihi tanpa menghakimi.

Soli Deo Gloria.

Senin, 03 Juni 2019

Hanya Dekat Allah Saja Aku Tenang


"Hanya dekat "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku" (Mazmur 62:b)

    Hidup ini terasa tidak berarti dan tak berpengharapan ketika jauh daripada Engkau ya Tuhan. Terasa sum-sum tulang menusuk amat perih, membuat tubuhku menggigil. Perasaan marah dan benci sedang mengintip, mencari waktu untuk menguasai jiwa yang lemah ini. Ya Tuhan, bukankan hari-hari tanpa-Mu seperti hari-hari tanpa kehidupan ?

Benar kata pemazmur "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain" (Mazmur 84:10a). Karena ketenangan jiwa adalah ketika dekat dengan Allah. Oleh karena itu Alkitab juga mengatakan "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku".

Kini ku mengerti lebih baik menderita karena Kristus daripada menyenangkan manusia. Keinginan untuk menyenangkan orang lain merupakan belenggu yang merusak. Sebenarnya dasar yang kita letakkan untuk mengasihi dan membahagiakan orang lain seharusnya bukan manusia tetapi Allah. Alkitab dengan tegas mengatakan "Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus" (Galatia 1:10).

Soli Deo Gloria.

Minggu, 02 Juni 2019

Tuhan Pasti Sanggup


Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. (Mazmur 34:17-18)

     Kalimat "Tuhan Pasti Sanggup" merupakan judul lagu yang dinyanyikan oleh Mike Mohede dan Maria Shandi. Saya melihat lagu ini memiliki lirik yang baik. Saya meyakini bahwa Tuhan sanggup menolong kita. Dia bukan saja menciptakan kita dan seisi dunia ini, tetapi Dia juga menopang segala ciptaan-Nya.

Yesus menguatkan hati yang bimbang, Dia memberikan penghiburan bagi yang bersedih. Dia bukan Allah yang hanya dari kejauhan kemudian berniat untuk menolong. Dia adalah Allah yang aktif, datang sendiri untuk menyelamatkan mereka yang tersesat  (Yoh.1:1,14, 3:16; Luk. 19:10). Dia adalah Allah yang turut merasakan penderitaan manusia. Dia adalah Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya dari maut (Efesus 6:23).

Sebelum kita ada (lahir), Allah sudah menunjukkan kasih-Nya (Roma 5:8). Bahkan sebelum kita terlahir kedunia, Ia telah mati untuk kita umat pilihan sebagai bentuk kasih terbesar-Nya. Dia adalah Allah yang tetap sama, baik kemarin hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8). Allah pasti sanggup menolong kita. 

Pertanyaan-Nya apakah kita mengandalkan Dia dalam hidup ini ?

Soli Deo Gloria.

Sabtu, 01 Juni 2019

Promise


"Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya." (Pengkhotbah 5:5)

      Janji adalah komitmen iman yang paling kuat. Tetapi janji juga bisa menjadi belenggu yang sangat mematikan. Seseorang yang berani berjanji seharusnya mengerti arti janji. Janji bukanlah sekedar susunan dari 5 huruf yang membentuk sebuah kata sehingga bisa seenaknya digunakan. Janji akan menunjukkan siapa kita. Manusia sering berjanji dan sering kali juga tidak ditepati.

Janji manusia semu dan fana. Janji Allah kekal dan abadi. Oleh karena itu hanya komitmen janji Allah sajalah yang akan memampukan kita menepati janji kita terhadap sesama.  Jika kita belum mengerti janji Allah, maka kita tidak mungkin bisa setia dan bersungguh-sungguh melaksanakan apa yang kita sudah katakan. Karena manusia tidak setia sedangkan Allah setia. Alkitab mengatakan "jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." (2 Timotius 2:13). Dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan (Roma 4:21). Dia berjanji bahwa kita tidak akan pernah sendirian. Allah akan memampukan kita menepati janji, baik terhadap Tuhan maupun sesama.

Soli Deo Gloria.