Rabu, 29 Januari 2020

Meninggalkan Zona Nyaman Ke Zona Iman

"Petrus berseru dan menjawab Dia: Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air. Kata Yesus: Datanglah! Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: Tuhan, tolonglah aku! Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:28-31)

    Cerita tentang Yesus yang berjalan di atas air merupakan peristiwa iman yang luar biasa. Hal ini merupakan salah satu mujizat yang diperlihatkan Yesus secara langsung kepada murid-murid-Nya. Bagi para murid ini adalah peristiwa yang tidak akan mereka lupakan. Dan secara khusus juga bagi Petrus. Petrus bukan hanya melihat peristiwa tersebut, ia bahkan merasakan sendiri kuasa Tuhan meskipun pada akhirnya ia bimbang dan tenggelam. Petrus ketika melihat Yesus, ia tertarik untuk pergi menghampiri-Nya dengan cara berjalan di atas air. Hal pertama yang petrus lakukan adalah meminta Yesus untuk menyuruhnya datang kepada Yesus. Hal kedua tentu petrus harus meninggalkan perahu dan berjalan di atas air. Dan apa yang terjadi? Petrus bisa berjalan di atas air. Tetapi baru saja petrus merasakan keajaiban dari kuasa Tuhan, angin bertiup dan Petrus segera bimbang sehingga akhirnya ia tenggelam. Tapi syukur, karena Yesus mengulurkan tangan-Nya dan meyelamatkan Petrus.

    Setiap dari kita mempunyai zona nyamannya masing-masing. Ada yang merasa nyaman untuk bermain game sampai berjam-jam dan mengabaikan waktu bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya. Ada yang relah menonton film drama romantis sampai seharian penuh dan melupakan waktu berdoanya. Ada pula yang memilih tidak melakukan apa-apa, dan tidur seharian di kamar untuk bermalas-malasan. Dan masih banyak hal lainnya yang menjadi zona nyaman dari setiap kita. Kalau boleh saya bertanya, zona nyaman seperti apa yang Anda nikmati sampai saat ini? Adakah itu membawa manfaat bagi sesama dan terlebih lagi bagi kemuliaan Tuhan?

    Seperti halnya petrus, zona nyamannya adalah berdiam di atas perahu. Karena lebih aman berada di atas perahu, ketimbang keluar dari atas perahu yang beresiko tenggelam. Namun Petrus memberanikan diri keluar dari zona nyamannya, dan berjalan menuju zona iman. Sungguh luar biasa yang terjadi, Petrus merasakan secara langsung kuasa Tuhan dan bagaimana kuasa itu mampu membuat ia berjalan di atas air. Memilih meninggalkan zona nyaman akan menuntun kita pada zona iman, dimana Allah akan mendemonstrasikan kuasa-Nya melalui hidup kita. Tapi kadang kala juga, ketika Allah telah melakukan perkara besar dalam hidup kita, kita segera bimbang karena ada angin (persoalan hidup, masalah, penderitaan dan lain sebagainya) yang datang menghampiri kita. Tetapi tidak mengapa, jika kita telah berani melangkah bersama Tuhan dalam zona iman, Yesus sanggup menolong kita di tengah kondisi yang buruk sekalipun. Jadi apa lagi yang kita tunggu? Apakah kita mau terus berada di zona nyaman, dan kehilangan kesempatan menyaksikan kuasa Tuhan? Ataukah kita berani berjalan dalam zona iman dan secara langsung dapat menyaksikan dan mengalami demonstrasi dari kuasa-Nya yang besar?

Soli Deo Gloria.
by. I.Y.K

Selasa, 07 Januari 2020

aku, kau, dan DIA

“Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yohanes 15:17)

            Cinta sejati adalah cinta yang berdasarkan kasih. Dan kasih yang sejati hanya di dapat melalui Allah yang adalah kasih. Alkitab berkata: “…Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”[1]. Jadi agar kita bisa memiliki cinta yang sejati maka kita harus memiliki Allah yang adalah kasih itu. Namun kita perlu menyadari bahwa kita harus melewati proses panjang untuk membangun cinta sejati itu.

Di dalam membangun cinta yang sejati kita memerlukan pribadi ketiga. Akan tetapi pribadi ketiga itu adalah DIA (Allah). Cinta sejati adalah cinta segitiga antara aku, kau, dan DIA (Allah). Anda mencintai pasangan karena Allah, dan karena Allah juga maka pasangan Anda mencintai Anda. Jadi Allah adalah dasar dari hubungan itu. Kiranya Allah dimuliakan melalui hubungan kita. Soli Deo Gloria.




[1] 1 Yohanes 4:16b