Rabu, 21 Agustus 2019

Menghargai Keberadaan Diri


“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau…"(Yesaya 43:4a)

Setiap orang harus menghargai keberadaan dirinya. Bukan untuk mengagungkan diri sendiri, melainkan mensyukuri akan kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan menciptakan setiap manusia dengan sangat unik. Dari sekian milyar manusia di bumi, tak ada satupun manusia yang diciptakan dengan karakteristik yang sama persis. Bahkan saudara kembar sekalipun meski memiliki penampilan fisik yang sama, namun kepribadian atau karakter mereka pasti berbeda. Oleh karena itu hargailah keberadaan kita.

Mengapa kita harus menghargai keberadaan diri ? karena Allah menghargai Anda dan saya. Kalau kita bisa menghargai keberadaan diri, kemungkinan besar juga kita akan menghargai keberadaan orang lain. Ada tiga prinsip penting agar kita dapat menghargai keberadaan diri sendiri dan orang lain.

Kita  harus mengenal Sang Pencipta. Allah Tritunggal adalah pencipta. Tak ada satupun manusia yang dapat mendefinisikan dengan baik dan komprehensif keberadaan kita selain Allah itu sendiri. Melalui Yesus Kristus yang adalah inkarnasi Allah, kita mengerti keberadaan kita.

Menerima Yesus Kristus secara pribadi. Yesus Kristus adalah wujud dari gambar Allah yang sejati. Pada dasarnya gambar diri manusia telah rusak oleh dosa, sehingga sikap rendah diri yang berujung pada tidak menghargai diri sendiri merupakan dampak dari dosa. Hanya Yesus Kristus yang dapat memulihkan gambar diri yang rusak itu.

Bersedia dipenuhi dan dipimpin oleh Roh kudus. Dunia ini menawarkan begitu banyak kenikmatan yang semu.  Akan tetapi Roh kudus menuntun kita, pada semua kebenaran Allah yang kekal. Ketika kita bersedia dipenuhi dan dipimpin oleh Roh kudus, kehidupan kita akan penuh dengan buah dari Roh Kudus. Allah menghargai saya dan Anda, oleh karena itu Anda juga harus menghargainya.


Soli Deo Gloria.

Selasa, 20 Agustus 2019

Jangan Bimbang


“Janganlah takut, sebab aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu.” (Yesaya 41:10a)

Beberapa tahun setelah saya mengambil keputusan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, hidup saya mengalami transformasi secara Rohani. Saya membuang semua pemikiran mengenai keselamatan adalah perbuatan baik saya. Hal ini membuat saya semakin teguh dan yakin akan jaminan hidup kekal ketika saya meninggal dunia nanti. Berita yang disampaikan dalam Alkitab tentang pembenaran hanya melalui iman oleh Yesus Kristus, membuat saya semakin teguh didalam pekerjaan baik. Saya bersemangat memberitakan siapa Yesus dan apa yang Dia lakukan dalam hidup saya. Yesus memberikan jaminan, bagi hati yang bimbang akan keselamatan.

Ketika memberitakan kabar baik (Injil), saya teringat sebuah pengalaman pergi observasi di suatu tempat pelayanan, yang ada di desa terpencil. Sekitar tiga kali saya terhindar dari kecelakaan. Salah satu hal yang terjadi yaitu saya menabrak sebuah batu besar kemudian hampir menabrak pembatas jalan. Syukur bagi Allah karena kendaraan yang digunakan tidak jatuh dan bisa dikendalikan. Rasanya pada situasi saat itu, saya tidak mau melanjutkan kegiatan. Namun jaminan keselamatan dan penyertaan dari Yesus Kristus membuat saya tidak bimbang untuk melanjutkan perjalanan itu. Saya teringat pesan Alkitab “Janganlah bimbang karena jaminan hidup kekal dalam kristus adalah pasti dan benar. “

Sudahkah keyakinan ini Anda miliki ?

Soli Deo Gloria.

Kamis, 15 Agustus 2019

LDR2: Lama Ditinggal Rasanya Rindu


“… yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu” (1 Tesalonika 2:17).

Sebagian besar pasangan pernah mengalami hubungan jarak jauh, entah itu antar desa/kelurahan, kota/kabupaten, antar propinsi, atau bahkan antar Negara. Hubungan seperti ini tentu menimbulkan kerinduan yang besar dalam diri pasangan tersebut, apalagi jika ditinggalkan sampai bertahun-tahun lamanya. Sayapun merasakan hal yang sama dengan kekasih saya. Rasanya jika ada pintu seperti dalam serial cerita “Doraemon”, maka setiap waktu saya mau mengunjungi orang-orang yang saya sayangi. Tapi kenyataannya kerinduan tetaplah kerinduan yang harus dibalut dengan kesabaran. Jika tidak ada kesabaran dan saling pengertian, nantinya akan merusak hubungan jarak jauh tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen yang teguh dari masing-masing pasangan. Persoalan tentang kerinduan ini, akan menjadi keutungan atau merugikan sebuah hubungan. Orang ketiga bisa saja memanfaatkan peluang ini untuk mengisi kerinduan itu. Sehingga bagi pasangan yang tidak berkomitmen dengan sungguh-sungguh maka hubungan yang sudah dibina bisa dirusak oleh orang lain.

Menurut saya hal yang wajar jika dalam sebuah hubungan ada persoalan yang harus dihadapi. Justru hubungan yang tanpa persoalan bisa berbahaya bagi pasangan itu, oleh karena otot-otot emosi mereka tidak terlatih. Persoalan dalam hubungan jarak jauh tidak hanya berkaitan tentang kerinduan yang besar untuk berjumpa, akan tetapi masalah komunikasi juga sering menjadi pemicu dari renggangnya sebuah hubungan. Oleh karena itu kepercayaan terhadap pasangan, komitmen, dan keterbukaan sangatlah penting. Tetapi lebih daripada itu kasih kepada Allah melalui Anak-Nya Yesus Kristus menjadi dasar dari hubungan itu. Percayalah meski rindu itu berat, tetap setialah dalam proses itu. Karena semuanya akan berlalu dan menjadi indah pada waktu-Nya.

Salam Pejuang LDR.

Soli Deo Gloria.

Rabu, 14 Agustus 2019

Jangan Mengeluh ! Bangkit Dan Berjuanglah.

Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah tetapi memperburuk kondisi yang ada, karena itu bangkit dan berjuanglah dengan pengharapan penuh pada Allah (Y.I).

             Ketika kesibukan kita semakin padat, tugas yang diberikan harus dikerjakan dengan cepat, dan ditambah lagi masalah relasi kita dengan orang lain menjadi renggang, hal ini akan sangat mudah membuat diri kita mengeluh dengan kondisi yang ada. Sebagian besar orang terjebak dalam situasi seperti ini kemudian memilih untuk menyerah. Kita seharusnya tidak menyerah dengan kondisi yang ada tetapi berserah pada Allah. Menyerah adalah tanda ketidakdewasaan emosi dan kerohanian kita. Sedangkan berserah kepada Allah adalah bukti ketergantungan kita kepada sumber kekuatan sejati. Letak kekuatan sejati itu adalah Allah melalui janji firman-Nya. Alkitab mengatakan TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku” (Mazmur 118:14).

             Disaat kita jatuh, berserahlah kepada Allah. Jangan merasa hebat dengan kekuatan sendiri. Bahkan seorang raja Salomo yang memiliki kekayaaan dan kuasa yang besar mengatakan Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan” (Amsal 3:5-7).

     Bangkit dan berjuanglah karena jika Allah yang membuka pintu tidak ada satupun yang dapat menutupnya. Jika Allah yang mengangkat kita, tak ada satupun yang dapat menurunkan kita. Jadi jangan mengeluh, percayalah bahwa semua kondisi itu di ijinkan Tuhan untuk kebaikanmu. Oleh karena itu Allah berjanji Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13).

Soli Deo Gloria

Jumat, 09 Agustus 2019

Hargai Pengorbanan Orang Lain


“Menghargai pengorbanan orang lain, merupakan sikap hidup yang bijaksana di dalam kesementaraan kehidupan di dunia.” (Y.I)

          Ketika Anda membaca judul yang di bahas dalam topik ini, mungkin Anda langsung teringat pada seseorang. Apakah itu orang tua, saudara Anda, pasangan Anda atau orang lain yang Anda kenal. Setiap dari kita sebagian besar pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seseorang. Tapi banyak juga dari kita yang menganggap semua itu biasa saja oleh karena kita sering menerima pemberian atau perlakuan seperti itu. Kita kemudian mengabaikan hal-hal seperti ucapan terima kasih dan penghargaan akan pengorbanan orang lain. Suatu saat ketika kita tidak mengalami hal yang sama barulah kita sadar bahwa kita sudah kehilangannya. Betapa bodohnya kita karena telah mengabaikan bagian penting ini.

     Ada sebuah kisah nyata dimana seorang Ayah hidup dengan seorang anak perempuannya. Mereka adalah keluarga yang sederhana. Sejak ibu dari anak ini meninggal, ayahnya yang mengurus segala sesuatu yang diperlukan oleh anak ini. Meski hidup sederhana tetapi ayah dari anak ini selalu mengusahakan yang terbaik bagi anaknya. Ketika anak ini menjadi remaja, dia ingin terlihat hidup mewah sehingga menuntut ayahnya membelikan baju baru, sepatu, handphone mahal, dan hal-hal lainnya. Jelas ayahnya tidak bisa memenuhi semua hal itu meski dia harus bekerja dengan sangat keras. Anak perempuan ini kemudian selalu memarahi ayahnya karena tidak bisa memenuhi keinginannya. Suatu ketika anak ini mengalami kecelakaan dan membutuhkan darah yang banyak untuk operasi. Akan tetapi pasokan darah di rumah sakit terbatas karena pada hari itu banyak pasien juga yang membutuhkan darah. Ayah dari anak ini kemudian meminta dokter untuk mengambil darahnya sebanyak yang mereka butuhkan. Beberapa minggu kemudian anak ini sadarkan diri, dia lalu melihat ayahnya tidur di sampingnya. Dia akhirnya menyesal dengan perbuatannya selama ini kepada ayahnya dan menangis. Ayahnya pun bangun dan menenangkan anaknya.

Anaknya bertanya : Apa yang terjadi dengan diri saya yah?
Ayah      : Kamu mengalami kecelakaan nak.
Anak      : Ayah, sudah berapa lama saya dirawat di rumah sakit ini?
Ayah      : Sudah hampir 3 minggu nak kamu tidak sadarkan diri, dan dirawat di rumah sakit ini.
Anak      : Bagaimana dengan biaya rumah sakit yah, bukankah biayanya sangat mahal?
Ayah   : Kamu tidak usah pikirkan soal itu nak. Selama ini ayah tidak mengabulkan permintaanmu untuk membeli pakaian mahal, sepatu bermerek, handphone terbaru, oleh karena ayah menabungnya untuk masa depanmu nak. Ayah telah menabung cukup uang untuk pendidikanmu kedepan, dan juga mendaftarkan dirimu dalam asuransi. Kamu tidak perlu kuatir lagi dengan biaya pengobatan ketika kamu sakit. Kamu juga tidak perlu kuatir dengan biaya pendidikanmu kedepan. Ayah sudah menyiapkan semuanya untukmu.
Anak    : Saya sangat menyesal yah. Saya sudah menyulitkanmu selama ini. Saya anak yang tidak tahu berterima kasih. Maafkan saya yah.
Ayah      : Ayah memaafkanmu nak. Ayah sangat menyayangimu. Kamu cepa sembuh ya?
Anak   : Terima kasih untuk pengorbananmu Ayah. Aku kini mendapatkan pelajaran berharga dari ayah, yaitu harus bersyukur dan menghargai perngorbanan orang lain dalam hidupku.

          Kisah ini sangat menginspirasi saya, sekaligus juga menjadi perenungan penting dalam hidup saya. Tetapi apakah kita harus mengalami kecelakaan terlebih dahulu, baru kita menyadari betapa berharganya pengorbanan orang lain dalam hidup kita? Ataukah kita harus kehilangan orang yang kita kasihi, barulah kita menyadari pengorbanan mereka. Jangan sampai terlambat menyadari semua ini. Hargai pengorbanan orang lain, selama kita masih diberi kesempatan hidup dan bersama mereka. Maukah Anda melakukannya?

Soli Deo Gloria.

Selasa, 06 Agustus 2019

Jomblo Bukan Kutukan

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Raja Salomo)

          Mungkin Anda saat ini sedang bergumul tentang pasangan hidup. Atau mungkin juga Anda belum memikirkan hal ini secara serius. Tetapi meski demikian Anda harus memiliki pandangan yang benar ketikapun Anda belum memiliki pasangan hidup. Dalam hal ini keadaan Anda yang sendirian/jomblo haruslah di jalani dengan pandangan yang benar tentang status Anda. Banyak orang menganggap kondisinya yang Jomblo disebabkan karena faktor fisik atau materi. Oleh karena itu di dalam kehidupannya hal yang paling diratapi adalah bagaimana “mendesain ulang fisiknya”, atau bagaimana supaya hidupnya boleh kaya raya sehingga bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ingat “Jomblo bukan kutukan”, ini adalah pilihan hidup Anda. Dibalik pilihan Anda itu, Allah telah menetapkan kapan Anda akan memulai sebuah hubungan dengan seseorang.

          Ada sebuah kisah yang menarik tentang hal ini, dimana ada seorang anak muda yang sangat risih dengan statusnya yang jomblo. Dia kemudian putus asah dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Anak muda ini nekat memanjat atap sebuah rumah tiga lantai dan kemudian mau menjatuhkan diri. Sebelum anak muda ini menjatuhkan diri, sudah banyak orang telah berkumpul untuk menyaksikan kejadian itu. Karena perasaan malunya dia kemudian tidak jadi menjatuhkan dirinya. Anak muda ini kemudian berbalik dan hendak turun, tetapi kejadian tak terduga terjadi, dimana dia tergelincir kemudian jatuh. Anak muda ini kemudian di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, dan akhirnya dia bisa diselamatkan. Akan tetapi anak muda ini mengalami patah tulang  yang sangat parah, yang mengakibatkan cacat permanen pada bagian kaki, tangan, dan lehernya. Memang kejadian ini sangat menyedihkan sekaligus memalukan, tetapi bisa menjadi pelajaran bahwa pemahaman yang salah tentang status jomblo, bukan hanya berakibat buruk pada kualitas kerohanian kita, tetapi juga sampai menghilangkan rasa berharga kita tentang diri sendiri. Padahal Alkitab mengatakan “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau…(Yesaya 43:4a)”.

          Jika Tuhan saja menganggap Anda berharga dimata-Nya, masakan hanya karena status jomblo Anda menyia-nyiakan hidup Anda. Jomblo bukan kutukan tetapi pilihan. Percayalah bahwa Tuhan sudah menyediakan orang yang tepat bagi Anda. Tugas Anda adalah mendoakan hal tersebut dengan berkata kepada diri sendiri sudah siapkah saya melepaskan status jomblo saya dan tetap menjalani kehidupan yang kudus?

Soli Deo Gloria.  

Senin, 05 Agustus 2019

Egoisme: Merugikan Diri Sendiri Dan Orang Lain


“Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:4)

          Pada dasarnya natur kita sebagai manusia, suka diri sendiri lebih unggul daripada orang lain. Selain itu kita sering mementingkan perasaan kita sebagai objek utama dibandingkan perasaan orang lain. Hal ini menunjukan sifat egoisme diri yang semakin mendominasi kehidupan kita. Tidak heran jika kita sering mengorbankan perasaan orang lain demi kepentingan diri kita sendiri.

          Suatu ketika ada seorang ibu yang hendak berbelanja ke pasar. Sebelum pergi anak bungsunya meminta agar ibunya sekaligus membelikan buah mangga untuknya. Ketika pulang, ternyata ibunya membeli banyak buah mangga dengan maksud agar dibagikan juga kepada saudara-saudarinya. Namun anak bungsu itu bersikeras tidak mau membagi satupun buah mangga tersebut dengan alasan dia yang memesan buah itu. Akhinya ia berniat memakan semua mangga yang dibeli dan mulai mengupas banyak mangga untuk dimakan sendiri. Karena terlalu banyak memakan buah mangga akhirnya sih anak bungsu tidak bisa menghabiskannya. Dan akibat terlalu banyak mengkonsumsi buah mangga, anak bungsu ini mengalami sakit perut. Jadi keegoisannya tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga diri sendiri.

          Rasul Paulus dalam suratnya memberikan nasehat kepada jemaat di Filipi agar tidak bersikap egoisme. Karena sikap egois hanya akan membuat persekutuan dalam jemaat menjadi hancur. Egoisme hanya akan merugikan semua pihak. Oleh karena itu Yesus Kristus sendiri telah memberikan teladan kepada kita tentang sikap tidak mementingkan diri sendiri. Yesus Kristus relah meninggalkan tahta kudus-Nya yaitu sorga mulia, dan menjadi manusia agar dapat menyelamatkan manusia berdosa. Jika Allah saja mau menyelamatkan kita yang sepantasnya binasa, bagaimana mungkin kita masih bersikap egois. Jadi buanglah sikap mementingkan diri sendiri, layanilah Tuhan dengan memperhatikan kepentingan orang lain. Bukan hanya itu saja, dahulukan orang lain di atas kepentingan kita sendiri. Pertanyaannya maukah Anda melakukannya?

Soli Deo Gloria.

Minggu, 04 Agustus 2019

Orang Kristen Adalah Penatalayan Allah


A.    Diselamatkan Untuk Menjadi Penatalayan Allah

Ketika manusia berdosa di insafkan oleh Roh Kudus akan dosanya, Roh kudus menuntun orang berdosa menerima kebenaran Injil dan akhirnya menyerahkan dirinya tunduk pada Ketuhanan Kristus. Dengan keyakinan yang teguh bahwa setiap orang yang mengaku dengan sungguh bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamat kemudian mengambil keputusan menerima-Nya secara Pribadi mereka disebut orang Kristen (Christ in) Kristus didalam hidupnya. Setiap orang yang percaya kepada Kristus adalah penatalayan Allah. 

Penatalayanan (stewardship) adalah panggilan semua orang percaya termasuk murid Kristus. Mereka adalah orang yang menatalayani atau mengelola talenta yang dipercayakan oleh Allah. Seorang yang mengalami transformasi akan menjadi penatalayan yang baik. Dalam Matius 25:14-30 Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang Tuan yang mempercayakan beberapa talenta kepada tiga orang hambanya. Setiap hamba diberikan kepercayaan untuk mengelola talenta yang berbeda-beda. Setelah beberapa waktu lamanya datanglah tuan tersebut untuk mengadakan perhitungan dengan ketiga hambanya tersebut. Dua hambanya telah mengelola talenta itu dengan baik sehingga diberikan penghargaan oleh tuan mereka dan turut mengambil bagian dalam kebahagian tuannya. Orang terakhir yang diberikan talenta lebih sedikit dari dua orang sebelumnya karena tidak mengelola talenta tuannya dengan baik, malah menyalahkan tuannya. Maka sebagai konsekuensi dari perbuatannya itu dia dihukum dengan sangat berat yakni dicampakan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Sebenarnya ini merupakan gambaran mengenai Allah (Tuan yang empunya pekerjaan) dan manusia (hamba yang dipercayakan). Semua yang kita sedang kerjakan sekarang adalah kepercayaan dari Allah. Oleh karena itu semua hal yang dipercayakan-Nya kepada kita harus di kerjakan dengan sebaik-baiknya sebab kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban dari kita (1 Petrus 4:5).

Orang kristen adalah penatalayan Allah. Apa yang dia sedang kerjakan merupakan kepercayaan dari Tuhan Allah. Jika mengerti ini maka akan menjadi orang kristen yang bertanggungjawab dan bijaksana. Sebagai  seorang penatalayan yang baik maka kita di tuntut untuk menjaga dan mengembangkan apa yang dipercayakan-Nya bagi kita. Kelak ketika Allah sang pemilik pelayanan itu datang, maka kita dapat memberikan pertanggungjawaban. Kita juga dituntut menjadi penatalan waktu dan Injil.


B.            Penatalayan Waktu

Saya sangat bersyukur bisa melayani di daerah Timur Indonesia. Daerah ini sangat terkenal karena alam dan budayanya yang luar biasa indah. Saya melayani selama 2 tahun di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Ketika ingin melayani di daerah Timur Indonesia, hal yang perlu diketahui dan dipelajari adalah budaya atau kebiasaan, bahasa, dan karakter mereka. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil ketika melayani di tempat seperti ini. Keramatamahan penduduk lokal, dan juga makanan khas yang mereka hidangkan untuk menyambut seorang tamu merupakan ciri khas tersendiri daerah ini. Terlepas dari semua hal baik tersebut ada hal yang kurang baik yang sering dilakukan oleh kebanyakan dari orang-orang yang berasal dari daerah timur yaitu soal mengelola waktu (Manajemen waktu). Terbukti setiap acara atau kegiatan pasti akan mengalami kendala waktu yakni keterlambatan. Acara sering dimulai beberapa menit setelah melewati waktu yang disepakati bahkan yang lebih parah bisa sampai beberapa Jam.

Memang tidaklah mudah mengubah kebiasaan seperti ini, apalagi sudah dilakukan secara terus menerus. Mengubah kebiasaan seseorang mengenai manajemen waktu akan seperti halnya mengajarkan lagi seorang bayi untuk merangkak dan berjalan. Stephen R. Covey dalam bukunya “The 7 Habits Of Highly Effective People” menjelaskan bahwa karakter kita pada dasarnya adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita.[i] Orang yang tidak memilki gagasan atau pemikiran bahwa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan hal penting akan mengakibatkan orang tersebut sering terlambat. Keterlambatan yang dilakukan secara terus menerus akan menghasilkan kebiasaan suka terlambat. Gabungan dari kebiasaan-kebiasaan suka terlambat pada akhirnya akan menjadi karakter orang tersebut.

Sebagai seorang penatalayan waktu, paradigma yang benar soal waktu adalah dasar yang sangat penting. Seorang yang memiliki paradigma bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan dan hidup ini hanyalah sementara pasti akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. lirik lagu yang berjudul “Hidup ini adalah kesempatan[ii] mengungkapkannya dengan baik.


Hidup ini adalah kesempatan
hidup ini untuk melayani Tuhan
jangan sia-siakan apa yang Tuhan bri
Hidup ini harus jadi berkat…

Refrein:
Oh Tuhan pakailah hidupku
selagi aku masih kuat
bila saatnya nanti
ku tak berdaya lagi
hidup ini sudah jadi berkat.

Sebagai orang kristen kita harus memanfaatkan waktu sebagai kesempatan untuk berkarya bagi kemuliaan Allah. Karena orang kristen seharsunya menjadi penatalayan waktu yang baik dan bijaksana.  Dan sebagai seorang penatalayan waktu yang baik dan bijaksana maka hal yang perlu dilakukan adalah memberi dampak kepada linkungan sekitar sehingga tercipta lingkungan yang menghargai dan mengelola waktu secara maksimal.

C.           Penatalayan Injil

Orang Kristen haruslah memilki cara pandang yang luas (holistik) mengenai pelayanan. Pelayanan tidak hanya di pandang secara sempit dalam wilayah gereja saja namun secara lebih luas mencakup semua wilayah di mana Injil bisa masuk di dalamnya. Kuasa injil tidak dapat di batasi oleh siapapun juga dengan kuasa apapun juga. “Injil adalah kuasa Allah untuk keselamatan setiap orang percaya.”[iii] Dengan kuasa injil maka setiap tembok-tembok keangkuhan dan kesombongan dapat di runtuhkan. Banyak buku yang menuliskan tentang berbagai macam trik atau teknik bagaimana dapat mengubah kebobrokan moral, cara berpikir yang jahat, dan segala bentuk masalah lainnya dengan berdasarkan pada etika kepribadian dan pendekatan psikologi masa kini namun semuanya itu hanya seperti obat bius saja. Obat bius hanya memberikan efek menghilangkan rasa sakit sementara saja, tetapi ketika telah sadar maka semuanya terasa sangat sakit.[iv] Belajar dari hal ini maka untuk dapat menuntaskan masalah kebobrokan moral, karakter yang buruk dan lain sebaginya tidaklah mungkin diselesaikan secara tuntas oleh segala upaya manusia melalui berbagai alternatif yang dibuat. Dalam iman kristen secara eksklusif dengan tegas di katakan bahwa hanya Allah saja yang dapat memperbaharui semua kerusakan ini sampai ke akar-akarnya. Allah melalui segala kebenara-Nya dalam Firman Tuhan (Injil) dapat memperbaharui dan membimbing pada pembaharuan hidup yang benar. Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengatakan “Segala Tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”[v]

Rasul Paulus dalam suratnya merasa berhutang akan Injil kepada orang-orang yang belum mendengarkan kabar baik ini. Rasul Paulus mengungkapkan bahwa dia di utus Kristus untuk memberitakan Injil.[vi] Injil merupakan kebutuhan semua orang berdosa. Tanpa Injil, manusia menjalani hidup tanpa pengharapan.             Kebutuhan akan injil mencakup pengharapan akan hidup sekarang di dunia dan juga kehidupan setelah kematian. Oleh sebab itu Rasul Paulus sampai mengatakan: “Karena jika aku memberitakan injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan injil”.[vii]

Injil merupakan berita yang sangat penting dalam Alkitab. Injil adalah berita tentang Kristus. Berita tentang Kristus merupakan tema utama dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian baru. Dalam Alkitab banyak hal yang penting untuk kita ketahui tetapi berita injil tidak hanya penting tetapi sangat Penting. Firman Tuhan berkata :

“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan kitab suci, bahwa Ia telah di kuburkan, dan bahwa Ia telah di bangkitkan, pada hari yang ketiga sesuai dengan kitab suci.” (1 Korintus 15:3-4)

Tiga Pokok yang sangat penting di tuliskan untuk di pahami dan di pelajari baik-baik karena ini merupakan dasar dari iman Kristen:
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Tanpa kebenaran dari berita ini, maka orang-orang yang percaya kepadanya masih hidup di dalam dosa dan tanpa pengharapan. Akan tetapi berita ini merupakan kebenaran dan kita bisa meyakini berita tersebut tanpa ada keraguan bahkan secara ilmia berita ini bisa kita telusuri. Kitab suci juga mengacu pada nubuat Maz. 16:8-11, Yes.53:5-6
Ia telah di kuburkan. Fakta tentang kematian kristus ditujukan mengenai fakta tentang penguburannya. Maria Magdalena dan maria ibu Yusuf melihat Yesus di taruh dalam kubur.[viii]
Ia telah dibangkitkan. Berita mengenai kebangkitan Yesus juga ditunjukan ketika kubur Yesus kosong. Injil mencatat bahwa Yesus ketika mati pada Jumat sore maka dia bangkit pada hari yang ketiga pada minggu pagi – ini menurut perhitungan waktu orang yahudi. Ini mengacu juga pada perkataan Yesus ketika Yesus mengutip Kitab Yunus 1:7, yang mengenai tiga hari.
Jadi Berita Injil mengenai kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus merupakan berita yang sangat penting. Mengapa ? karena ini menyangkut dasar iman kekristenan kita. “tetapi andaikata Kristus tidak di bangkitkan, maka sia-sialah juga kepercayaan kamu… Dan jika Kristus tidak di bangkitkan, maka dan kamu masih hidup di dalam dosamu.”[ix] Jadi berita Injil merupakan berita yang sangat penting dan mendesak untuk di ketahui banyak orang.
Saya memiliki Pengalaman berharga dengan orang-orang yang haus akan berita injil. suatu ketika saya di minta untuk menyampaikan khotbah di sebuah persekutuan doa, saat acara telah selesai saya di minta lagi untuk berkhotbah di persekutuan doa minggu berikutnya namun lokasinya berada di tempat lain. Saya kemudian mempersiapkan khotbah yang cukup sederhana agar dapat di mengerti oleh jemaat. Beberapa hari berlalu ternyata ada satu hal yang saya lupa yaitu menanyakan dimana dan kapan ibadah itu akan dimulai. wah.! suatu pengalaman berharga saya adalah ketika saya sendiri yang harus mencari tahu kapan dan dimana lokasi ibadah itu akan berlangsung. Dalam pencarian ini saya kemudian di pertemukan lagi dengan tempat persekutuan doa lainnya. Melalui persekutuan doa ini saya kemudian bisa mengetahui lokasi dan waktu ibadah akan berlangsung. Ketika hari dimana saya akan berkhotbah telah tiba, saya bergegas dan berangkat menggunakan kendaraan roda dua (Motor). Saya juga berangkat lebih awal dari waktu yang di sampaikan. Dalam perjalanan, saya berjumpa dengan beberapa orang yang memerlukan tumpangan untuk berangkat ke suatu tempat ibadah. Saya kemudian mempersilakan mereka untuk naik di kendaraan, dan saya akan mengantar mereka. Selesai mengantar mereka, saya kemudian bergegas untuk pergi ke tempat saya akan melayani sebagai pengkhotbah. Saya melihat tinggal beberapa menit lagi ibadah akan di mulai. Namun dalam perjalanan saya kembali di minta tolong oleh seseorang ibu dan anaknya untuk dapat mengantar mereka ke suatu tempat. Saya melihat bahwa lokasi saya akan mengantar mereka satu jalur perjalanan dengan tempat ibadah saya namun saya harus melewati tempat saya akan berkhotbah kemudian memutar balik kendaraan. Saya membayangkan seperti dalam perumpamaan Yesus mengenai cerita orang samaria yang murah hati. Jika saya menolak memberikan tumpangan dengan alasan akan segera memimpin ibadah maka kayaknya saya seperti imam dan orang lewi yang memberikan alasan atau dalih supaya tidak di sibukan dengan hal itu. Tapi ini adalah cara paling baik supaya saya bisa sampai tepat waktu. Pilihannya hanyalah saya akan menolong, Saya tidak perlu jadi orang samaria tapi saya harus menolong mereka. Saya kemudian mengantar mereka dan setelah itu kembali lagi dan pergi ke tempat Ibadah. Sesampainya di tempat ibadah ternyata ibadah baru akan di mulai. Dalam ibadah ini ternyata hanya tujuh orang saja yang hadir. Satu di antara semua orang yang hadir saya kenal karena dialah yang mengundang saya di situ tetapi enam orang di antaranya saya tidak kenal. Saya merasa bahwa ibadah ini adalah ibadah yang sangat khusyuk bagi saya. Perhatian dan penerimaan mereka akan Injil sangatlah besar. Mereka menyadari bahwa kebutuhan mereka akan injil sangatlah besar. Kini mereka mengerti bahwa segala kesalehan mereka tidaklah dapat menghapuskan dosa. Perbuatan baik sebaik apapun itu, tidak dapat menjadi dasar untuk keselamatan mereka. Hanya Yesus Kristus saja sebagai anak domba Allah yang tak bercacat dan sempurna yang dapat menjadi tebusan untuk keampunan dosa mereka. Dengan hati yang terbuka dan penuh penyesalan akan dosa, mereka mengaku dosa dan menerima Anugerah pengampunan Allah melalui Yesus Kristus. Mereka menyerahkan hidup kepada Kristus dan meneriman-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup mereka secara Pribadi. Kini hidup mereka dipakai untuk kemulian Allah. Orang yang telah diselamatkan dan diubahkan hidupnya oleh Allah seharusnya menjadi pelayan Yesus kristus dalam pelayanan pemberitaan Injil. Pelayanan pemberitaaan injil bukanlah anjuran yang diberikan oleh Allah untuk kita lakukan melainkan suatu perintah yang harus kita lakukan. Rasul Paulus “Kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu.”[x]




[i] Stephen R. Covey, The 7 Habits Of Highly Effective People, Edisi Revisi, Karisma Inti Ilmu, hal 55
[ii] Ciptaan Pdt. D. Surbakti, dicover oleh Marsel Tumbelaka.
[iii] Roma 1:16 (AYT)
[v] 2 Timotius 3:16 (TB)
[vi] 1Korintus 1:18 (TB)
[vii] 1 Korintus 9:16 (TB)
[viii] Matius 27:59:61, Markus 15:47, Lukas 23:55 (TB)
[ix] 1 Korintus 15:14,17 (TB)
[x] 2 Timotius 4:4 (TB)

Jumat, 02 Agustus 2019

Waktu-NYA bukan Waktu-ku !


“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,…” (Pengkhotbah 3:11)

          Wajar bagi seorang manusia merencanakan suatu hal yang baik bagi hidupnya.  Tetapi Alkitab telah menegaskan “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Amsal 19:21). Tidak ada manusia yang ingin dirinya mengalami kegagalan, masalah, keterpisahan dengan orang yang dikasihi, ataupun sakit penyakit. Tetapi tahukah kita bahwa Allah sering menggunakan semua peristiwa itu untuk membentuk hidup kita agar semakin serupa dengan Kristus. Seperti sebuah lirik lagu mengatakan “Suka duka dipakainya untuk kebaikanku”. Waktu terbaik kita bersama Allah adalah ketika kita sedang mengalami masalah dalam hidup. Saat tidak ada lagi harapan yang bisa diandalkan dalam diri: baik harta, teman, keluarga, kepintaran, dan kekuasaan, kemudian hanya Yesus satu-satunya harapan yang kita miliki, maka disitulah kita akan menaikan penyembahan paling murni kita kepada Allah.

          Saya merasa bahwa waktu paling intim dalam penyembahan adalah ketika saya sedang mengalami masalah. Ketika saya harus menahan rasa rindu yang berkepanjangan, masalah dalam pelayanan yang terus menekan, kekecewaan, dan persoalan lainnya, saat itulah saya bisa merasakan kehadiran Allah memenuhi hati saya. Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik menurut pandangan Tuhan. Dunia yang telah tercemar oleh dosa menawarkan kebenaran yang relatif, dan kebahagiaan yang semu. Jadi mempercayakan hidup pada Allah adalah kebijaksanaan. Kita harus berserah dan menaklukan diri pada Kebenaran-Nya. Nantikan waktu Tuhan, karena rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera. Maukah kita?

Soli Deo Gloria.  

Kamis, 01 Agustus 2019

Jatuh? Bangkit Lagi !


”Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya”. (Mazmur 37:24)

          Setiap manusia memiliki kelemahannya masing-masing. Oleh karena itu semua orang tentu pernah melakukan kesalahan. Apakah itu kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja. Ada pandangan umum yang mengatakan jika seorang perempuan jatuh maka sulit baginya untuk bangkit lagi. Tetapi jika dilihat dari beberapa kejadian yang sudah terjadi khususnya dalam kasus bunuh diri, ternyata paling banyak dilakukan oleh laki-laki. Jadi sebenarnya baik laki-laki maupun perempuan sangat rentan dengan yang namanya keputusasaan yang mengakibatkan kehancuran hidup. Mengapa banyak orang bisa menjadi putus asah dan sampai bunuh diri dengan cara yang mengenaskan? ataupun jika tidak bunuh diri, maka hidup mereka hanya terus meratapi sisah hidup dengan penyesalan. Hal ini karena mereka tidak memiliki pengharapan yang mendorong untuk bangkit dari keterpurukan.

          Saya memahami bahwa bangkit dari sebuah masalah yang sangat menyakitkan dan berkepanjangan tidaklah mudah. Kita bisa saja menyelesaikan masalah itu akan tetapi tidak bisa melupakannya. Alkitab mengatakan “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12). Pertanyaannya bagaimana supaya kita bisa bersukacita dalam pengharapan jika tidak ada dasar kita berharap? Yesus Kristus adalah sumber pengharapan sejati. Melalui Yesus kita mengenal Allah yang hidup, melalui Dia kita memiliki pengharapan dalam kehidupan saat ini maupun yang akan datang. “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya (1 Timotius 4:10)”. Kita bisa bangkit ketika jatuh, asalkan Kristus menjadi dasar dalam hidup. Maukah Anda percaya pada-Nya?

Soli Deo Gloria.