”Apabila
ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya”. (Mazmur 37:24)
Setiap manusia memiliki kelemahannya masing-masing. Oleh
karena itu semua orang tentu pernah melakukan kesalahan. Apakah itu kesalahan
yang disengaja atau tidak disengaja. Ada pandangan umum yang mengatakan jika
seorang perempuan jatuh maka sulit baginya untuk bangkit lagi. Tetapi jika
dilihat dari beberapa kejadian yang sudah terjadi khususnya dalam kasus bunuh
diri, ternyata paling banyak dilakukan oleh laki-laki. Jadi sebenarnya baik
laki-laki maupun perempuan sangat rentan dengan yang namanya keputusasaan yang
mengakibatkan kehancuran hidup. Mengapa banyak orang bisa menjadi putus asah
dan sampai bunuh diri dengan cara yang mengenaskan? ataupun jika tidak bunuh
diri, maka hidup mereka hanya terus meratapi sisah hidup dengan penyesalan. Hal
ini karena mereka tidak memiliki pengharapan yang mendorong untuk bangkit dari
keterpurukan.
Saya memahami bahwa bangkit dari sebuah masalah yang sangat
menyakitkan dan berkepanjangan tidaklah mudah. Kita bisa saja menyelesaikan masalah
itu akan tetapi tidak bisa melupakannya. Alkitab mengatakan “Bersukacitalah
dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Roma
12:12). Pertanyaannya bagaimana supaya kita bisa bersukacita dalam pengharapan
jika tidak ada dasar kita berharap? Yesus Kristus adalah sumber pengharapan
sejati. Melalui Yesus kita mengenal Allah yang hidup, melalui Dia kita memiliki
pengharapan dalam kehidupan saat ini maupun yang akan datang. “Itulah sebabnya
kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada
Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya (1
Timotius 4:10)”. Kita bisa bangkit ketika jatuh, asalkan Kristus menjadi dasar
dalam hidup. Maukah Anda percaya pada-Nya?
Soli
Deo Gloria.

0 komentar:
Dí lo que piensas...