“Dan janganlah tiap-tiap orang hanya
memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
(Filipi 2:4)
Pada dasarnya natur
kita sebagai manusia, suka diri sendiri lebih unggul daripada orang lain. Selain
itu kita sering mementingkan perasaan kita sebagai objek utama dibandingkan
perasaan orang lain. Hal ini menunjukan sifat egoisme diri yang semakin
mendominasi kehidupan kita. Tidak heran jika kita sering mengorbankan perasaan
orang lain demi kepentingan diri kita sendiri.
Suatu ketika ada seorang ibu yang hendak berbelanja ke
pasar. Sebelum pergi anak bungsunya meminta agar ibunya sekaligus membelikan buah
mangga untuknya. Ketika pulang, ternyata ibunya membeli banyak buah mangga dengan
maksud agar dibagikan juga kepada saudara-saudarinya. Namun anak bungsu itu
bersikeras tidak mau membagi satupun buah mangga tersebut dengan alasan dia yang
memesan buah itu. Akhinya ia berniat memakan semua mangga yang dibeli dan mulai
mengupas banyak mangga untuk dimakan sendiri. Karena terlalu banyak memakan
buah mangga akhirnya sih anak bungsu tidak bisa menghabiskannya. Dan akibat terlalu
banyak mengkonsumsi buah mangga, anak bungsu ini mengalami sakit perut. Jadi
keegoisannya tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga diri sendiri.
Rasul Paulus dalam suratnya memberikan nasehat kepada jemaat
di Filipi agar tidak bersikap egoisme. Karena sikap egois hanya akan membuat
persekutuan dalam jemaat menjadi hancur. Egoisme hanya akan merugikan semua
pihak. Oleh karena itu Yesus Kristus sendiri telah memberikan teladan kepada
kita tentang sikap tidak mementingkan diri sendiri. Yesus Kristus relah
meninggalkan tahta kudus-Nya yaitu sorga mulia, dan menjadi manusia agar dapat
menyelamatkan manusia berdosa. Jika Allah saja mau menyelamatkan kita yang
sepantasnya binasa, bagaimana mungkin kita masih bersikap egois. Jadi buanglah sikap
mementingkan diri sendiri, layanilah Tuhan dengan memperhatikan kepentingan
orang lain. Bukan hanya itu saja, dahulukan orang lain di atas kepentingan kita
sendiri. Pertanyaannya maukah Anda melakukannya?
Soli
Deo Gloria.

0 komentar:
Dí lo que piensas...