Rabu, 12 Juni 2019

Awal Dari Segalanya Adalah Allah


“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36)

Keyakinan banyak orang masa kini adalah terlalu mengagungkan Humanisme sekular[1]. Mereka meyakini manusia adalah penyebab dari segala sesuatu. Humanisme sekular beranggapan bahwa alasan Tuhan menciptakan alam semesta, yaitu: supaya manusia dapat menikmatinya untuk kesenangan dirinya sendiri. Humanisme Sekular memiliki cara pandang bahwa manusialah tujuan utama dari segala sesuatu yang ada sekarang. Sekilas pemahaman ini terlihat benar, tetapi dampak dari pengagungan atas manusia adalah manusia mulai mentuhankan dirinya sendiri. Manusia mengerjakan setiap perkara demi ketenaran pribadi, pujian pribadi, dan untuk memuaskan tubuhnya. Sesungguhnya akibat terburuk dari semua ini yaitu kehilangan dasar dari pengenalan akan Allah yang benar. Didalam Alkitab dengan tegas mengatakan Allah adalah penyebab pertama dari segala sesuatu. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.[2] Oleh karena itu Allah menciptakan segala sesuatu bagi-Nya sendiri. Allah menempatkan kita di dunia ini dengan sebuah tujuan besar yakni untuk kemuliaan-Nya.

Saya secara pribadi begitu bergumul dengan perkara ini. Jika apa yang saya lakukan semata-mata hanya supaya nama saya dipuji dan diagungkan maka apalah arti pelayanan ini. Tinggal menunggu waktu saja, maka bom waktu egoisme mendominasi untuk menghancurkan sukacita dan pengharapan dalam pelayanan. Pengalaman berharga bagi saya ketika berada dibangku kuliah semester dua, dimana saya terlalu membanggakan kepintaran pribadi sehingga pada akhirnya menganggap remeh relasi dengan Tuhan dan sesama. Hasil dari membanggakan atau menyombongkan diri ini adalah kekecewaan dan nilai semester terburuk dari semua semester yang ada. Jadi apa yang dapat dibanggakan dari semua ini, bukankah hari-hari manusia seperti bunga rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi[3]. Jadi Allah adalah awal dari segalanya maka berpijaklah pada dasar ini dan berjalanlah di dalam-Nya.




[1] Lihat pembahasannya dalam tulisan Ravi Zacharias dan Vince Vitale, Jesus Among secular God’s,  terbitan Literatur Perkantas Jatim, Bab 5, hal. 133-154
[2] Yohanes 1:3 (TB)
[3] Mazmur 103:15-16 (TB)

0 komentar:

Dí lo que piensas...