“Sebab segala sesuatu
adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai
selama-lamanya.” (Roma 11:36)
Keyakinan
banyak orang masa kini adalah terlalu mengagungkan Humanisme sekular[1]. Mereka meyakini manusia adalah penyebab dari segala sesuatu.
Humanisme sekular beranggapan bahwa alasan Tuhan menciptakan alam semesta,
yaitu: supaya manusia dapat menikmatinya untuk kesenangan dirinya sendiri.
Humanisme Sekular memiliki cara pandang bahwa manusialah tujuan utama dari
segala sesuatu yang ada sekarang. Sekilas pemahaman ini terlihat benar, tetapi
dampak dari pengagungan atas manusia adalah manusia mulai mentuhankan dirinya
sendiri. Manusia mengerjakan setiap perkara demi ketenaran pribadi, pujian
pribadi, dan untuk memuaskan tubuhnya. Sesungguhnya akibat terburuk dari semua
ini yaitu kehilangan dasar dari pengenalan akan Allah yang benar. Didalam
Alkitab dengan tegas mengatakan Allah adalah penyebab pertama dari segala
sesuatu. “Segala sesuatu dijadikan oleh
Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah
dijadikan.”[2]
Oleh karena itu Allah menciptakan segala sesuatu bagi-Nya sendiri. Allah
menempatkan kita di dunia ini dengan sebuah tujuan besar yakni untuk
kemuliaan-Nya.
Saya
secara pribadi begitu bergumul dengan perkara ini. Jika apa yang saya lakukan
semata-mata hanya supaya nama saya dipuji dan diagungkan maka apalah arti
pelayanan ini. Tinggal menunggu waktu saja, maka bom waktu egoisme mendominasi
untuk menghancurkan sukacita dan pengharapan dalam pelayanan. Pengalaman
berharga bagi saya ketika berada dibangku kuliah semester dua, dimana saya
terlalu membanggakan kepintaran pribadi sehingga pada akhirnya menganggap remeh
relasi dengan Tuhan dan sesama. Hasil dari membanggakan atau menyombongkan diri
ini adalah kekecewaan dan nilai semester terburuk dari semua semester yang ada.
Jadi apa yang dapat dibanggakan dari semua ini, bukankah hari-hari manusia
seperti bunga rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila
angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya
lagi[3]. Jadi Allah adalah awal
dari segalanya maka berpijaklah pada dasar ini dan berjalanlah di dalam-Nya.
[1] Lihat pembahasannya dalam tulisan
Ravi Zacharias dan Vince Vitale, Jesus
Among secular God’s, terbitan Literatur
Perkantas Jatim, Bab 5, hal. 133-154
[2] Yohanes 1:3 (TB)


0 komentar:
Dí lo que piensas...