Minggu, 22 Maret 2020

Hikmat Dalam Menghadapi Virus Covid-19


Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Yesus menjawabnya, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Lukas 4:9-12).

          Saat ini dunia sedang dilanda wabah virus covid-19 atau virus corona yang sangat mematikan. Menurut data per 22 Maret 2020, ada 159 Negara/kawasan yang dilanda virus ini. Secara global sekitar 244.525 orang positif terjangkit virus covid-19, 86.032 orang dinyatakan sembuh, dan yang meninggal dunia sudah 10.031 orang. Di Indonesia sendiri terkonfirmasi sudah ada 514 orang positif terjangkit, 29 orang sembuh, sedangkan yang meninggal dunia ada 48 orang[i]. Menurut Gugus tugas penanganan virus covid-19, jumlah kasus di Indonesia akan terus meningkat jika orang-orang tidak mendengarkan instruksi yang disampaikan oleh pemerintah. Pemerintah telah mengeluarkan perintah agar dapat beraktivitas di rumah saja selama beberapa minggu kedepan. Hal ini untuk mencegah penularan virus corona. Akan tetapi sampai sejauh ini masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dari pemerintah. Pertanyaannya, mengapa masih banyak masyarakat yang tidak menghiraukan peringatan dari pemerintah untuk bekerja, beribadah, dan beraktivitas di rumah selama beberapa minggu ini? ternyata banyak di antara masyarakat, masih saja melawan karena mereka katanya meyakini Tuhan tidak akan menimpahkan wabah tersebut kepada orang “beriman”. Jadi, mengapa kami harus beribadah di rumah? bukankah dengan beribadah di rumah tandanya kita kurang percaya dan lebih takut dengan penyakit dari pada kepada Tuhan (kata beberapa pemuka agama). 

          Dalam Injil lukas 4:1-13, Yesus dicobai iblis sebanyak 3 kali. Salah satu hal yang dilakukan iblis untuk mencobai Yesus adalah menyuruh Yesus menjatuhkan diri-Nya ke bawah bumbungan bait Suci. Jika dilihat dari ukuran bait suci, kira-kira tinggi bait suci adalah 27 meter (60 hasta). Jika Yesus menjatuhkan diri-Nya ke bawah, Yesus yang memiliki natur manusia (bisa merasakan sakit dan lain sebagainya) pasti akan mengalami luka yang sangat parah. Untuk mencobai Yesus, apa yang dilakukan iblis sangatlah licik dengan mengutip firman Tuhan (Mazmur 91:11-12) “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.” Topik ini semakin menarik karena Yesus memberikan respon dengan penuh hikmat. Yesus tidak “sok” menunjukan kehebatan-Nya, dengan berkata “Baiklah Aku akan menunjukan kehebatan-Ku dengan cara memanggil para malaikat-Ku untuk membuat-Ku terbang”. Dalam Alkitab Yesus justru berkata “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu (Lukas 4:12)”. Pertanyaan-Nya, apakah Yesus takut untuk menjatuhkan diri-Nya kebawah padahal ada jaminan Allah Bapa untuk melindungi-Nya? Ataukah Yesus kurang hebat, sehingga jika Yesus jatuh Ia tidak akan selamat dan meninggal dunia?  

          Dengan tidak menjatuhkan diri-Nya kebawah, Yesus justru menunjukan hikmat dan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Dalam hal ini Yesus telah menunjukan bagaimana seharusnya kita menunjukan iman kita ketika menghadapi sebuah pencobaan atau masalah. Karena saat ini banyak orang “yang sok rohani” mau menyatakan imannya dengan cara bodoh. Mereka tidak mentaati anjuran pemerintah untuk berdiam di rumah, dengan dalil mereka berkata: “kami adalah orang percaya, tidak mungkin Tuhan membiarkan kami terkena virus corona”. Mereka kemudian tetap mengadakan kebaktian masal, KKR, dan segala bentuk perkumpulan, untuk menunjukan bahwa mereka tidak takut dengan penyakit selain kepada Tuhan. Terbukti sikap seperti ini adalah sebuah kebodohan yang mengakibatkan kematian masal di Negara Italia dan juga Korea Selatan (Korsel). Contohnya kasus virus corona di Korsel, terbanyak karena disebabkan oleh penularan dari jemaat sebuah aliran Gereja Shincheonji Yesus di Daegu. Ketika pemerintah Korsel telah mengeluarkan larangan melakukan perkumpulan masal, mereka tidak mendengarkan anjuran tersebut dan tetap mengadakan sebuah perkumpulan masal. Pada akhirnya pemimpin dari aliran tersebut meminta maaf kepada pemerintah dan seluruh rakyat Korsel, kerena telah menjadi penyumbang terbesar orang yang terkena virus corona.[ii]

          Benar bahwa kita harus lebih takut kepada Tuhan dari pada virus covid-19 dan segala bentuk penyakit lainnya. Akan tetapi, Tuhan memberikan hikmat kepada kita untuk menyatakan iman kita dengan cara yang benar. Kita tidak perlu menunjukan iman kita dengan cara-cara yang bodoh dan di luar akal sehat. Oleh karena itu marilah kita mentaati pemerintah yang telah berusaha semaksimal mungkin mengatasi penyebaran virus ini. Alkitab berkata: “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (Roma 13:1-2). Kiranya kita dapat menggunakan hikmat dalam menghadapi wabah ini, sambil terus mengevalusi diri seberapa banyak waktu yang telah kita buang karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, pendidikan, sehingga tidak ada waktu untuk bersekutu bersama keluarga dan secara pribadi dengan Tuhan. 

Soli Deo Gloria.

1 komentar:

Lst.

😇

Dí lo que piensas...