“Ketika seseorang ingin pergi maninggalkanmu, jangan tahan dia, biarkan dia pergi. Jika Tuhan menetapkan dia untukmu, yang pergi pun akan kembali” (I.Y.K).
Seberapa seringkah kamu ditinggal orang yang kamu kasihi
dalam hidupmu? Bagaimana perasaan kamu jika sebenarnya dalam kebimbangan kamu
mengharapkan dia pergi tapi berharap juga dia kembali? Bagaimana jika ada
seorang sahabat yang sangat mengenal kamu, baik kelebihan dan kelemahanmu tapi
kemudian dia memilih meninggalkanmu, agar supaya kamu bisa memilih jalan yang
terbaik? benarkah jalan itu yang terbaik? Jangan ada penyesalan jika semuanya
terlambat dan semakin gelap. Gelap karena tidak ada secercah cahaya menerangi
relasi yang telah hilang tersebut.
Rasanya tembok egoisme selalu mendominasi setiap perjalanan
berelasi dengan sesama. Saya pernah diusir dari rumah oleh mama karena
melakukan hal yang menurut mereka tidak baik yakni membantah dan berkata kasar
kepada mama. Saya tahu bahwa mama sebenarnya tidak menginginkan saya pergi,
tapi dia membiarkan saya pergi untuk sementara waktu. Selama satu minggu saya
pergi ke tempat penginapan. Setelah seminggu berlalu, ayah tiba-tiba datang
menjemput saya. Sepanjang perjalanan beliau tidak berkata apa-apa. Karena
memang ayah tidak pernah mencampuri masalah ketika mama mendidik kami di rumah.
Sesampainya di rumah, apakah kalian bisa membayangkan apa yang terjadi? Mungkinkah
saya akan dimarahi lagi? Atau mungkin saya diminta untuk pergi? Tidak. Mama ternyata
memasak ikan enak untuk saya makan. Ketika saya sampai, mama menawari saya
untuk makan. Dia pun berkata “mama sebenarnya tidak mau kamu pergi, seharusnya
kamu mengerti bahwa ketika mama bilang kamu pergi, sebenarnya yang mama
kehendaki yakni kamu jangan pergi dan menyadari kesalahan kamu”. Sambil makan,
mata saya berlinang air mata yang entah secara tiba-tiba jatuh begitu deras. Mama
menutup pembicaraan dengan mengatakan, makan yang kenyang dan jangan pergi lagi
!
Pergi menjauh tidak menyelesaikan masalah, karena hanya mereka yang bertahan yang pada akhirnya akan menjadi pemenang. Tapi jika pun ingin pergi, jangan lupa untuk kembali. Setidaknya jika kembalimu tidak mengubah keadaan, kamu dapat berkata: saya telah bahagia dengan pilihanku, aku harap kamu pun demikian. Tuhan mengasihimu, aku pun demikian.
by. I.Y.K


0 komentar:
Dí lo que piensas...