“Persoalan
kita tidaklah lebih besar daripada rencana Allah dalam hidup kita. Karena itu
tindakan bijaksana adalah membiarkan Allah menggenapi rencana itu sesuai dengan
waktu-Nya”. (IYK)
Pada suatu hari ada seorang anak perempuan bermain-main di taman rumah mereka. Ia suka bermain dengan kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga. Suatu ketika, anak ini melihat secara langsung seekor kupu-kupu yang berusaha keras untuk keluar dari cangkang kepompong. Selama beberapa waktu lamanya ia menyaksikan betapa keras usaha dari kupu-kupu itu untuk keluar. Tapi karena merasa kasihan akhirnya ia membantu membuka kepompong tersebut. Apa yang terjadi? kupu-kupu itu pun bisa keluar, tetapi hanya bisa merayap di tanah. Dia menunggu sangat lama untuk melihat apakah kupu-kupu itu bisa terbang atau tidak, namun sayang kupu-kupu itu ternyata tidak bisa terbang. Dia menangis kemudian membawa kupu-kupu malang tersebut ke dalam rumah untuk diperlihatkan kepada orang tuanya. Orang tuanya pun kemudian menjelaskan bahwa kupu-kupu itu tidak bisa terbang oleh karena anaknya membantu membuka cangkangnya. Orang tuanya yang kebetulan adalah seorang guru IPA menjelaskan bahwa kupu-kupu haruslah berusaha keluar sendiri dari cangkangnya. Meskipun hal itu adalah proses yang lama dan menyakitkan, namun melalui proses tersebut otot-otot pada sayap kupu-kupu akan terbentuk. Dengan demikian kupu-kupu akhirnya mempunyai kekuatan untuk membuka dan mengepakkan sayapnya sehingga bisa terbang.
Kupu-kupu adalah salah satu mahkluk ciptaan Tuhan. Tuhan telah mendesain bagaimana caranya untuk hidup dan berkembang. Proses yang di awali dari telur, ulat, kepompong kemudian menjadi kupu-kupu, telah di desain Tuhan sesuai dengan waktu-Nya. Menghilangkan salah satu dari proses tersebut hanya akan membuat kupu-kupu itu tidak berkembang atau mati. Jadi meskipun anak kecil tadi berpikir bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baik (menurutnya), tapi ternyata ia malah memperburuk keadaan dari kupu-kupu itu. Hal ini terjadi karena ketidaktahuannya akan proses yang harus di jalani oleh seekor kupu-kupu.
Kadang juga kita bersikap seperti anak kecil tersebut. Kita berpikir bahwa kita telah melakukan sesuatu yang baik untuk hidup kita, tapi ternyata apa yang kita lakukan malahan memperburuk keadaan yang ada. Ketidaktahuan pada rencana dan proses Tuhan membuat kita cenderung bertindak sesuai dengan kehendak kita sendiri. Memang kita memiliki kecenderungan untuk memilih jalan sendiri dan ingin bebas dari Tuhan Allah. Kita lebih suka melakukan sesuatu sesuai dengan waktu kita bukan waktu Tuhan. Kita tidak mau melalui proses yang memakan waktu lama dan menyakitkan. Kita lebih suka sesuatu yang instan, yang hasilnya bisa langsung kelihatan. Tapi firman Tuhan mengatakan “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Oleh karena itu berjalanlah sesuai rencana dan waktu Tuhan. Percayalah waktu Tuhan pasti yang terbaik.
Soli Deo Gloria.
by. I.Y.K


1 komentar:
Sangat memberkati,,, thank you idul yasri koyongkam...
Dí lo que piensas...